PosBelitung/

Gempa Bumi Nepal, Kewaspadaan Bagi Indonesia

Bencana gempa bumi (earthquake) yang terjadi di Nepal, perlu mendapat perhatian dan menjadi bentuk kewaspadaaan Indoensia.

Gempa Bumi Nepal, Kewaspadaan Bagi Indonesia
Pos Belitung/ist
Ilustrasi foto

OPINI Oleh Taufiq Andika
Lulusan Teknik Geologi UNSOED Purwokerto Jawa Tengah

POSBELITUNG.COM, TANJUNGPANDAN -- Dua pekan terakhir, kita masih dibuat tercengang dengan bencana gempa bumi (earthquake) yang terjadi di Nepal. Gempa bumi yang terjadi pada hari Sabtu 25 April 2015 lalu menyisakan keprihatinan mendalam, baik untuk warga Nepal maupun dunia internasional. USGS (Pusat Survey Geologi Amerika) mencatat kekuatan gempa sekitar 7.9 SR (Skala Richter) dengan pusat gempa (episenter) berada sekitar 29 kilometer (km) di sebelah tenggara Lanjung, Nepal, dengan kedalaman 16 km.
Data terakhir (5/5) menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal dunia yang berhasil didata sudah lebih dari 7.635 jiwa dan korban cedera mencapai 14.366 orang. Kerugian material yang diakibatkan oleh gempa bumi ini tentu cukup banyak. Menurut statistik kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 600 ribu rumah di negara berpenduduk 28 juta jiwa rusak akibat gempa bumi, sedangkan data dari Kementerian Pendidikan Nepal menerangkan bahwa sekitar 4.500 gedung sekolah rusak parah.

Melihat fenomena bencana gempa bumi di Nepal, tentu memori kita akan kembali terkenang dengan kejadian serupa yang melanda Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Gempa bumi yang kemudian disusul oleh gelombang tsunami di Aceh terjadi pada hari Minggu, 26 Desember 2004. Kekuatan gempa sekitar 9.2 SR, episenter berada pada 160 km sebelah barat Aceh dan kedalamannya 10 km. Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Aceh tersebut mencapai 500 ribu jiwa.
Dari rentetan berbagai peristiwa bencana alam (natural disasters) yang terjadi akhir-ini, tentu rasa penasaran kita terusik untuk mengetahui penyebab serta bagaimana proses geologinya sehingga dampak yang ditimbulkan cukup memprihatinkan.
Gempa bumi Nepal sebetulnya tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan Pegunungan Himalaya yang merupakan pegunungan tertinggi di dunia. Pegunungan Himalaya terbentuk akibat adanya benturan keras antara Lempeng Benua Asia dengan Lempeng Benua India yang dimulai sejak 30 – 40 juta tahun yang lalu. Pergerakan interaksi kedua lempeng benua tersebut diperkirakan sekitar 4.5 sentimeter per tahun. Pada saat benturan antarbenua terjadi, maka akan terbentuk sesar maupun patahan-patahan naik (thrust fault). Tentu saja pada saat terbentuk patahan akan menyebabkan gempa bumi dengan skala yang bervariasi. Patahan-patahan yang disertai pengangkatan maupun pensesaran ini mampu mengangkat Pegunungan Himalaya hingga mencapai ketinggian 8.848 meter pada Puncak Everest.
Dalam hal gempa bumi Nepal tanggal 25 April kemarin, dapat disimpulkan bahwa proses penyebabnya adalah karena adanya proses pelepasan akumulasi energi dari pusat gempa sehingga tercipta titik keseimbangan yang baru (equilibrium point).

Pertanyaannya, apakah gempa bumi di Nepal dengan gempa-gempa bumi yang di Indonesia saling berkaitan?
Sebagaimana kita ketahui, Indonesia dan Nepal dilintasi oleh jalur ring of fire (Lingkaran Api Pasifik). Ring of fire adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi maupun letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik. Daerah ini menyerupai tapal kuda dengan cakupan wilayah sepanjang 40 ribu km. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika hampir 80 persen gempa besar dunia terjadi di jalur ring of fire.
Menurut Dewan Penasihat IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) Rovicky Dwi Putrohari, zona subduksi (tumbukan) lempeng tektonik yang ada di Nepal masih merupakan satu kesatuan dengan zona subduksi yang ada di selatan barat Sumatera hingga selatan Jawa. Artinya, jika di Nepal terjadi gempa bumi maka suatu saat di Indonesia pun akan terjadi gempa bumi juga.

Daerah-daerah yang perlu diwaspadai setelah kejadian gempa bumi di Nepal adalah di sebelah barat Padang dan Pangandaran karena daerah ini merupakan wilayah seismic gap. Seismic gap adalah zona patahan yang diketahui keaktifannya (dapat mengeluarkan gempa), akan tetapi sudah lama tidak terjadi aktifitas kegempaan di wilayah tersebut. Artinya, meskipun wilayah seismic gap jarang mengalami gempa, akan tetapi jika akumulasi energinya sudah besar maka wilayah ini dapat memicu gempa besar dengan kekuatan lebih dari 8 SR. Oleh sebab itu, wilayah-wilayah tempat seismic gap harus mendapat perhatian serius dari pemerintah di dalam hal mitigasi untuk meminimalisir efek bencana yang tidak diinginkan.
Dalam hal tersebut, penulis tentu tidak bermaksud untuk menakut-nakuti masyarakat Indonesia. Analisis demikian didasarkan sebagai bentuk kesiapsiagaan agar masyarakat serta pihak terkait lebih berperan aktif di dalam merespons berbagai kejadian bencana alam yang akhir-akhir ini banyak terjadi di Indonesia.
Ada salah satu ungkapan yang mengatakan bahwa “education can’t stop natural disasters from occuring, but it can help people prepare for the possibilities” atau dalam terjemahan bebasnya memiliki makna pendidikan kebencanaan tidak serta merta menghentikan bencana, akan tetapi ia dapat membantu masyarakat untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan. Salam geologi..!!

Editor: edy yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help