Pemakaman di Toraja

Setelah Beberapa Tahun Berlalu, Keluarga Akan Bawa Makanan dan Rokok untuk Almarhum

Beberapa tahun setelah pemakaman dilakukan, keluarga akan mengadakan 'pemakaman kedua', yakni merapikan, membawa makanan dan rokok untuk almarhum

Setelah Beberapa Tahun Berlalu, Keluarga Akan Bawa Makanan dan Rokok untuk Almarhum
Net/NatGeo
Seorang anak berusia tiga tahun yang meninggal sehari sebelumnya tengah dipeluk oleh saudaranya 

POSBELITUNG.COM - Daniel Rantetasak (52), warga yang telah menghadiri lebih dari 100 pemakaman menuturkan, dalam sebuah upacara besar, minimal ada 24 kerbau yang dikorbankan dan bahkan mencapai ratusan.

Padahal rata-rata harga kerbau per ekor sebesar Rp 20 juta.

Bila dikalikan 20 ekor saja, maka biaya yang dibutuhkan untuk kerbau mencapai Rp 400 juta. Belum lagi biaya untuk menjamu tamu dan sebagainya karena orang akan minum dan bermain pada upacara pemakaman.

Baca : Di Toraja Orang Meninggal Tak Langsung Dimakamkan,Tapi Diajak Bicara dan Makan

Bila seorang saudara sudah memberikan hadiah, maka yang lainnya harus memberikan yang lebih besar. Pembawa acara akan mengumumkan nama-nama pemberi hadiah beserta apa yang diberikan.

Tak hanya sampai di situ penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia dilakukan.

Beberapa tahun setelah pemakaman dilakukan, keluarga akan mengadakan 'pemakaman kedua', yakni merapikan, membawa makanan dan rokok untuk almarhum, serta mengeluarkan jenazah dari tempat peristirahatannya untuk dipakaikan busana baru yang lebih bagus.

Bila kodisi jenazah masih bagus, ini menjadi pertanda baik bagi keluarga yang ditinggalkan, karena dapat meraih kesuksesan dalam hidup.

Di antara sekian banyak penduduk Toraja, Petrus Kambuno disebut-sebut sebagai satu-satunya orang yang mengetahui asal muasal kepercayaan itu. Ia seorang lelaki berusia 90 tahun dari kota Panggala yang giginya hampir ompong.

Ia mengisahkan, Toraja merupakan tempat di mana Tuhan menciptakan lelaki dari surga dan wanita dari bumi.

Masih menurut Kambuno, Tuhan memerintahkan kita untuk menyenangkan orang agar meringankan kesedihan kita, termasuk saat keluarga tercinta meninggal dunia.

"Ayah saya (almarhum, red) di sini, tetapi saya di sini. Jadi dia tidak benar-benar mati. Saya memiliki anak perempuan, berarti ibu saya (almarhum) telah ditukar dengan anak saya. Ayah telah ditukar saya," urai Kambuno. (tribunjogja.com)

Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved