Konon Kalau Pergi ke Pulau Ini Pakai Baju Merah, Maka Lehernya akan Terputar

Di balik keindahannya, tempat itu memiliki sejarah dan cerita mistis serta legenda yang konon masih terngiang di telinga para tetua kampung.

Konon Kalau Pergi ke Pulau Ini Pakai Baju Merah, Maka Lehernya akan Terputar
TRIBUNMANADO/VALDY SUAK
Kuburan keramat di Desa Borgo Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara. Memiliki pemadangan indah dan juga legenda tentang larangan menggunakan kaus berwarna merah. 

POSBELITUNG.COM - Sebuah pulau kecil, tepat di pinggiran perkampungan Desa Borgo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) Provinsi Sulawesi Utara, menjadi salah satu objek wisata yang belum tersentuh.

Pulau Guntur yang kini bernama kubur keramat itu menjadi salah satu titik puncak yang bisa melihat keindahan hamparan pesisir Pantai desa Borgo, serta melihat birunya laut lepas.

Kuburan berbentuk kotak, dengan telapak tangan manusia di tiap sudut bangunan kubur menjadi salah satu daya tarik.
Dilihat dari atas pulau tampak pemandangan air dangkal nan jernih yang dihiasi terumbu karang yang indah mengelilingi pulau.

Tempat itu pun cocok dijadikan lokasi snorkling, untuk ke tempat tersebut hanya membutuhkan jalan kaki dari Desa Borgo sekitar 100meter.

Di balik keindahannya, tempat itu memiliki sejarah dan cerita mistis serta legenda yang konon masih terngiang di telinga para tetua kampung.

Tribun Manado berjumpa dengan Usman Lanongbuka (67), pria kelahiran tahun 1949 ini berbagi cerita sejarah asal muasal Kubur Keramat itu.

"Dulu namanya pulau Nunuk, kemudian diganti Pulau Guntur karena tempat terbelahnya ombak yang menghasilkan suara mirip Guntur. Nama Kubur Keramat muncul setelah suatu ketika diketahui bahwa salah satu kuburan itu dimakamkan seorang manusia yang tak memiliki pusar keturunan Arab," katanya.

Dari sejarah yang ia ceritakan kuburan itu merupakan peninggalan sejarah Pedagang Arab yang datang berdagang serta menyebarkan ajaran Islam pertama di daerah tersebut. "Makam itu katanya milik Fares dan Binjindan, warga dari Arab yang datang berdagang disini," katanya.

Sekrang Makam tersebut menjadi tempat ziarah para Habib dan warga muslim dari daerah Sulawesi Utara dan sampai daerah luar, seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Di balik sejarah siapa pemilik makam itu, muncul kisah mistis yang dipercayai warga sampai saat ini.

Halaman
12
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved