Kawin Paksa Era Khmer Merah, Menolak Diancam Dieksekusi

Khmer Merah, rezim paling brutal di Asia Tenggara, bertanggung jawab atas kematian lebih dari dua juta jiwa

Kawin Paksa Era Khmer Merah, Menolak Diancam Dieksekusi
bbc
Khieu Samphan, salah seorang pemimpin rezim Khmer Merah yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. 

POSBELITUNG.COM, PHNOM PENH – Pengadilan Kamboja yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/8/2016), menghadirkan para saksi terkait dengan perkawinan paksa era Khmer Merah.

Khmer Merah, rezim paling brutal di Asia Tenggara, bertanggung jawab atas kematian lebih dari dua juta jiwa atau hampir 25 persen dari total populasi Kamboja pada 1975-1979.

Menurut kantor berita AFP, testimoni untuk pertama kalinya di pengadilan itu telah menghadirkan puluhan ribu pasangan yang dipaksa menikah sebagai bagian dari rencana Khmer Merah untuk meningkatkan jumlah populasi.

Seorang perempuan mengatakan, dia telah diperkosa oleh seorang komandan Khmer Merah setelah dia diancam akan dieksekusi karena menolak perkawinan paksa dengan suaminya.

Dua pemimpin senior rezim Khmer Merah, yakni “Kakak Nomor Dua” Nuon Chea (90) dan Khieu Samphan (85), telah diseret ke pengadilan.

Shampan adalah mantan politisi komunis Kamboja yang menjadi presiden negara presidium Demokratik Kamboja antara 1976-1979.

Ketika itu, Shampan menjabat sebagai kepala negara Kamboja dan salah satu pimpinan paling berkuasa dalam gerakan Khmer Merah, di samping Pol Pot.

Dipimpin oleh ”Kakak Nomor Satu” Pol Pot, Khmer Merah berencana mengubah masyarakat Kamboja menjadi masyarakat sosialis petani.

Utopia ini antara lain dijalankan dengan membunuh orang terpelajar yang tinggal di perkotaan, atau memaksa mereka pindah menjalani kerja paksa ke desa mengolah pertanian.

Nuon Chea dan Shampan didakwa melakukan kejahatan melawan kemanusiaan.

Halaman
12
Editor: kamri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved