PosBelitung/

Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang

Testimoni tentang ketangguhan Orang Laut di Pulau Belitung tidak usah disangsikan lagi. Sejumlah catatan dalam buku-buku kuno buatan Belanda menunjukk

Kulek Terakhir Part 2 - Penguasa Lautan dan Beragam Testimoni Tentang Ketangguhan Suku Sawang
LPMP Air Mata Air
Kulek Terakhir cover 

Bab I

Para Penguasa Lautan

Testimoni tentang ketangguhan Orang Laut di Pulau Belitung tidak usah disangsikan lagi. Sejumlah catatan dalam buku-buku kuno buatan Belanda menunjukkan bahwa Orang Laut dikenal sebagai pelaut pemberani dan nelayan yang ulung. Buku Ensiklopedia Hindia-Belanda terbitan tahun 1896 secara terang-terangan memaparkan ciri fisik dan karakter Orang Laut di Pulau Belitung. Paparan itu pula yang membuat citra Orang Laut semakin dikenal luas di kawasan Nusantara maupun kalangan Eropa.

”Mereka memiliki fisik yang kuat, pelaut pemberani,
nelayan yang unggul, dan pekerja yang kuat,”
Ensiklopedia Hindia-Belanda, (1896) hlm 204.

Kekuatan fisik Orang Laut juga tak sekadar berlaku di lautan, tapi juga di daratan. Insinyur tambang timah di Belitung Cornelis de Groot memastikan Orang Laut layak menyandang predikat pekerja yang hebat. Hanya saja predikat tersebut baru berlaku bila Orang Laut diberikan kesempatan untuk mengadopsi cara kerjanya sendiri. Cara kerja itu yakni dengan sistem borongan atau kerja lembur yang menuntut pekerjaan berlangsung hingga larut malam.

Kulek Terakhir
Gambar 1.1. Cornelis De Groot Sumber: Gedenkboek Billiton, 1852-1927/Repro.

”Mereka adalah pelaut yang berani, nelayan yang sangat baik dan pekerja yang kuat.
Mereka juga pantas disebut sebagai pekerja hebat,” De Groot, (1883) hlm 331

Penilaian De Groot patut jadi perhatian mengingat dirinya adalah salah satu pionir perusahaan timah Belitung yang berhubungan langsung dengan Orang Laut. Ia bahkan adalah orang Belanda pertama yang menggunakan nama Blitong sebagai judul buku. Hal ini setidaknya menggambarkan bahwa De Groot adalah sosok orang yang sangat memperhatikan sisi keaslian dalam menulis kebudayaan Belitung.

Orang Laut yang begitu populer dalam sejarah juga menarik perhatian penulis Indonesia Sutedjo Sujitno. Ia bahkan membuat paparan yang cukup panjang tentang Orang Laut di Indonesia secara umum. Paparan itu ditulis dalam bukunya yang berjudul Sejarah Timah Indonesia, terbitan tahun 1996. Disebutkan asal usul Orang Laut berkaitan erat dengan sejarah rumpun Melayu di semenanjung Malaysia dan Nusantara. Dalam sejarah diketahui kedatangan ras rumpun Melayu ke wilayah tersebut berlangsung selama dua gelombang.

Kedatangan gelombang pertama terjadi sekitar 2500-1500 tahun sebelum masehi (SM). Kala itu orang-orang dari benua Asia datang dan menyebar ke wilayah selatan seperti semenanjung Malaysia dan Nusantara bagian barat termasuk Sumatera dan Kepulauan Riau. Mereka ini yang kemudian dikenal sebagai bangsa Proto Melayu. Bangsa ini merupakan pendukung budaya Neolithicum (zaman batu baru). Menurut Sutedjo, jejak bangsa Proto Melayu masa kini yakni Suku Talang Mamak dan Suku Laut.

Kedatangan ras rumpun Melayu gelombang kedua berlangsung dalam periode sekitar 300 SM. Rombongan gelombang kedua ini dikenal dengan sebutan Deutro Melayu. Sekarang mereka menjadi mayoritas penduduk Riau dan dikenal dengan sebutan Melayu Riau.

Di antara rombongan gelombang kedua itu, terdapat kelompok yang dinamai Orang-Orang Perahu. Kedatangan mereka berlangsung dalam rentang abad ke-10 sampai abad ke-19 yang dalam publikasi Barat sering disebut lewat nama Sea Nomads, Nomadic Boat People, atau Boat People. Secara harfiah sebutan-sebutan itu bisa diartikan Orang Perahu Pengelana. Berdasarkan cara hidupnya, mereka juga kadang disebut dengan istilah Sea Gippsies. Para pedagang Portugis menyebut Orang-orang Perahu ini dengan sebutan Celates.

Halaman
123
Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help