PosBelitung/

Maras Taun Sebagai Bentuk Pertahanan Budaya Belitong dari Pengaruh Budaya Luar

Maras Taun 2017 ini sebagai bentuk melestarikan adat dan budaya Belitong agar tidak tenggelam dan sirna oleh adanya budaya bangsa lain.

Maras Taun Sebagai Bentuk Pertahanan Budaya Belitong dari Pengaruh Budaya Luar - maras-taun_20170416_112324.jpg
Pos Belitung/Disa Aryandi
Pelaksanaan Maras Taun 2017 di Pulau Mendanau, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Minggu (16/4). Pos Belitung/Disa Aryandi
Maras Taun Sebagai Bentuk Pertahanan Budaya Belitong dari Pengaruh Budaya Luar - maras-taun_20170416_112903.jpg
Pos Belitung/Disa Aryandi
Pelaksanaan Maras Taun 2017 di Pulau Mendanau, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Minggu (16/4). Pos Belitung/Disa Aryandi

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

POSBELITUNG.COM, BELITUNG -- Budaya Maras Taun merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan secara rutin setiap tahun.

Salah satu wilayah yang menjadi pelaksana ritual Maras Taun adalah Pulau Mendanau, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung.

Kepala Desa Selat Nasik, Joni Arsyah mengatakan, Maras Taun 2017 ini sebagai bentuk melestarikan adat dan budaya Belitong agar tidak tenggelam dan sirna oleh adanya budaya bangsa lain.

"Apalagi pulau mendanau ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata, jadi budaya seperti ini perlu dikembangkan dan perlu ada kesadaran masyarakat menjaga kelestarian bumi pulau mendanau," kata Joni, Minggu (16/4/2017).

Joni tidak memungkiri, Pulau Mendanau adalah salah satu desa pejuang yang telah ikut bertempur merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

"Makanya masyarakat maupun pemerintah perlu banyak perhatian dan peningkatan untuk pengembangan pembangunan infrastruktur ekonomi maupun budaya," ujarnya.

Penulis: Disa Aryandi
Editor: aladhi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help