PosBelitung/
Home »

Bisnis

» Makro

Dirjen Perkebunan Soroti Turunnya Produktivitas Kelapa Sawit

Komoditi kelapa sawit menjadi penyumbang nilai ekspor bagi sub-sektor perkebunan yakni US$ 15 milyar, disusul karet menyumbang US$ 3,9 milyar.

Dirjen Perkebunan Soroti Turunnya Produktivitas Kelapa Sawit
NET
Kelapa Sawit 

Laporan wartawan Pos Belitung, Ardhina Trisila Sakti

POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Dirjen Perkebunan melakukan rapat koordinasi dan konsultasi pembangunan perkebunan kepada pengusaha dan pemerintah daerah di Bangka Belitung.

Direktur Jenderal Perkebunan, Ir. Bambang MM menyoroti produksi sawit di Indonesia, pasalnya produksi sawit di lahan satu hektar hanya menghasilkan 2-3 ton saja, sementara perusahaan sawit besar menghasilkan 4-5 ton.

Jumlah ini dinilai lebih sedikit dibanding negara tetangga seperti Malaysia yang mampu menghasilkan 12 ton per hektar.

Perkebunan menjadi salah satu sub-sektor pertanian yang telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah dan penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 2015, kontribusi ekspor perkebunan mencapai US$ 23 milyar, dan menyerap tenaga kerja sebanyak 23 juta.

Komoditi kelapa sawit menjadi penyumbang nilai ekspor bagi sub-sektor perkebunan yakni US$ 15 milyar, disusul karet menyumbang US$ 3,9 milyar.

Dari 11,9 juta hektar kelapa sawit di Indonesia, sebanyak 4,7 juta hektar merupakan perkebunan sawit rakyat dengan tingkat produktivitas di bawah standar.

Menurut Bambang, minimnya produktivitas sawit rakyat diakibatkan sumber benih dan cara pemeliharaanyang tidak tepat.

“Secara ekonomi sayang apabila kesuburan tanah tidak pergunakan dengan baik,” ungkap Bambang saat ditemui Pos Belitung, Jumat (28/4).

Selain persoalan minimnya produktivitas sawit, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tony Batubara menyoroti sedikitnya harga yang diterima petani karena adanya perantara.

Di Bangka Belitung terdapat 200.000 hektar lahan sawit milik perusahaan dan 81.000 hektar lahan sawit rakyat.

“Sawit ini memang harus dibenahi agar bisa memberikan kontribusi kepada petani sawit. Ada rantai panjang tandan buah segar (TBS) dari petani ke pabrik, petani belum menerima harga yang kita tetapkan per bulannya. Harga Rp.1.800 per kilo TBS sudah kita tetapkan tapi kenyataan harga itu yang sampai ke perusahaan, ada perantara yang mengambil TBS dari petani seharga Rp.1.500 per kilo TBS,” ungkapnya Tony.

Penulis: Dhina Sakti
Editor: aladhi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help