Home »

Lokal

Berburu Kulat Setelah Panas Tare di Belitung

Saya termasuk orang yang biasa beume jadi tahu kulat mana saja yang boleh atau enak dimakan. Ada kulat yang mirip Kulat Pelandok

Berburu Kulat Setelah Panas Tare di Belitung
facebook/ist
Kulat 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

POSBELITUNG.CO, BELITUG - Hujan yang beberapa hari terakhir mengguyur Pulau Belitung menjadi berkah bagi orang-orang seperti Baridi, warga Desa Kembiri, Kecamatan Membalong, Belitung.

Hujan yang turun setelah panas terik selama dua bulan terakhir (dikenal orang Belitong dengan istilah Panas Tare) itu, membuat tanah di hutan-hutan menjadi lembap, dan jamur (kulat) pun bermunculan.

Baridi dan warga lainnya di Kecamatan Membalong menjadikannya buruan untuk sekadar lauk makan.

"Kalau kami di kampung, kulat ini bisa di-gangan, cukup pakai bumbu tiga (cabai, bawang, terasi). Dicampur ikan Pedak. Orang biasanya dimasak tumis, enak," kata Baridi kepada Pos Belitung, Selasa (13/3/2018).

Di facebook misalnya, Baridi telah mengunggah aktivitas berikut hasil berburu kulatnya: satu nampan kulat Pelandok berwarna putih dan kulat Pelawan berwarna merah. Panjangnya sekitar setengah kilan orang dewasa.

Unggahan itu mendapat respons ratusan like dan puluhan warganet yang ikut tertarik.

"Baru kemarin tumbuhnya. Saya lihat di facebook banyak warga Bangek, Lintang, yang posting kulat, saya ikut cari di hutan, alhamdulillah dapat," kata dia.

Baridi berhasil mengumpulkan hingga 30 kembang kulat Pelandok dan Kulat Pelawan. Jika ditimbang, berat basahnya mencapai tiga kilogram.

Semua kulat itu ia peroleh di hutan yang ada di Desa Kembiri.

"Saya termasuk orang yang biasa beume jadi tahu kulat mana saja yang boleh atau enak dimakan. Ada kulat yang mirip Kulat Pelandok, yaitu Kulat Minyak yang jika dimakan bisa mabuk," ungkapnya.

Kulat, kata Kembiri, biasa tumbuh dua kali dalam satu tahun. Pertama, saat hujan setelah Panas Tare di bulan Februari-Maret, dan kedua, saat hujan musim panas pada Agustus dan September.

Saat-saat itulah warga masuk ke hutan lalu seperti berlomba mendapatkan kulat.

"Siapa cepat dia dapat. Ini seperti berlomba. Karena warga juga biasanya sudah tahu di hutan sebelah mana biasanya kulat tumbuh. Karena kalau tidak dapat, ya tunggu enam sampai tujuh bulan lagi," kata Baridi. (*)

kulat 2
kulat 2 (facebook/ist)
kulat
kulat (facebook/ist)

Aktivitas dan hasil berburu kulat oleh Baridi, warga Desa Kembiri, Kecamatan Membalong. (ist)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help