PosBelitung/
Home »

Lokal

Klaim Ditunggak BPJS, Pihak RS Depati Bahrin Terpaksa Berutang

Direktur Rumah Sakit Depati Bahrin Sungailiat mengakui adanya keterlambatan pencairan BPJS terhadap klaim

Klaim Ditunggak BPJS, Pihak RS Depati Bahrin Terpaksa Berutang
bangkapos/ nurhayati
Direktur Rumah Sakit Depati Bahrin dr Jasminar saat menerima kunjungan Pokja II DPRD Kabupaten Bangka, Jumat (12/4/2018) di Ruang Pelayanan BPJS Rumah Sakit Depati Bahrin Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

POSBELITUNG.CO --Direktur Rumah Sakit Depati Bahrin Sungailiat dr Jasminar mengakui adanya keterlambatan pencairan oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) terhadap klaim BPJS yang diajukan pihak rumah sakit. Kondisi ini sangat mempengaruhi operasional rumah sakit.

Pihaknya sudah berusaha terus meminta pembayaran ke pihak BPJS agar segera dilunasi klaim yang tertunggak. Namun dari pihak BPJS Kabupaten Bangka juga kesulitan karena hubungannya dengan BPJS pusat.

"Jadi mereka (pihak BPJS--red) selalu menyampaikan seperti itu, kami aturannya seperti ini. Aturan-aturan BPJS ini kan selalu berubah-ubah. Klaim kita saja untuk tahun 2016 dan 2017 juga masih ada yang belum dilunasi oleh BPJS. Terkadang staf kita tidak tahu permasalahan yang dihadapi. Kami tidak akan menyampaikan masalah-masalah seperti itu kepada mereka, cukup mereka melayani pasien tetapi itu menjadi urusan kami. Kita selalu berusaha kami sampai langsung sendiri mengurusnya ke BPJS Pangkalpinang," ungkap Jasminar kepada bangkapos.com di RS Depati Bahrin atau yang dikenal dengan nama RSUD Sungailiat.

Diakuinya banyak klaim pending dari pihak rumah sakit dimana pihak rumah sakit memasukan sekian klaim hanya sebagian yang dicairkan oleh pihak BPJS.

"Kita masukan sekian klaim yang disetujui mereka kadang baru 10 padahal yang kita masukan 250, bayangkan aja. 250 dikalikan minimal saja dirawat inap Rp 2 juta berapa duit yang tertahan di mereka (pihak BPJS--red)," keluh Jasminar.

Dikatakannya terkadang alasan dari pihak BPJS tidak ada data yang masuk di mereka padahal itu merupakan kesalahan pihak BPJS.

Dampaknya diungkapkan Jasminar, pihak Rumah Sakit Depati Bahrin untuk menutup biaya klaim BPJS tersebut terpaksa harus berutang kepada pihak-pihak terkait seperti perusahaan farmasi.

"Keterlambatannya di kamilah, akhirnya utang kami banyak. Untuk pembayaran obat kita di situ, jasa medis di situ semua. Diutangi kalau mereka (perusahaan farmasi-red) mau diutangi. Mereka juga kalau di obat itu nggak semudah itu utang. Kita bisa utang asal yang kemarin bayar. Kita mau bayar pakai apa," sesal Jasminar.

Dia berharap BPJS membuat sistem yang bisa memudahkan dan mempercepat pencairan klaim dari pihak rumah sakit. Disampaikannya sekarang aplikasi BPJS berubah terus bukan mempermudah pihak rumah sakit tetapi justru mempersulit.

Kendati banyak klaim rumah sakit yang ditunggak BPJS, namun Jasminar memastikan pelayanan terhadap pasien tetap diutamakan pihaknya.

"Kita jangan menghambat pasien, yang pening cukup direktur, tuntutan obat mau dibayar, tuntutan dari pasien kebutuhan, tuntutan pelayanan bagus tapi kita tidak mengesampingkan hak pasien tetap, kita tetap memberikan yang terbaik," kata Jasminar.

Kepala Unit BPJS Kesehatan Kabupaten Bangka Novie Sagita saat dikonfirmasi melalui telpon meminta agar bangkapos.com mengkonfirmasi pihak BPJS di Pangkalpinang.
"Silahkan menanyakan langsung ke BPJS Pangkalpinang ke bagian pelayanan dan keuangannya," kata Novie singkat.

Penulis: nurhayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help