Minimnya Sarana dan Prasarana Sekolah di Desa Terpencil

SMPN 3 Satu Atap Sungaiselan yang sudah berdiri di Pangkal Raya sejak tahun 2005 lalu sudah memprihatinkan.

Minimnya Sarana dan Prasarana Sekolah di Desa Terpencil
Bangka Pos/Adinda Rizki Amanda
Azwir bersama guru-guru lainnya foto bersama di SMPN 3 Satu Atap di Pangkal Raya. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Adinda Rizki Amanda

POSBELITUNG.CO - Di era modern saat ini banyak sekolah-sekolah didukung dengan teknologi-teknologi canggih dalam metode pembelajarannya.

Namun berbanding terbalik dengan keadaan SMPN 3 Satu Atap Sungaiselan di Pangkal Raya.

SMPN 3 Satu Atap Sungaiselan yang sudah berdiri di Pangkal Raya sejak tahun 2005 lalu sudah memprihatinkan.

Bagaimana tidak bangunan sekolah yang hanya terdiri 3 lokal yakni kelas 1, 2, 3 dengan WC di samping sekolah tidak mendapatkan lokal kantor untuk guru-gurunya.

Sehingga hal itu membuat guru-guru terpaksa menumpang ke gedung SD sebagai alternatifnya, Selasa (17/4/2018).

Keadaan yang tidak kunjung berubah ini membuat banyak anak-anak sekolah terpaksa harus bermain dan membaca dengan buku seadanya dikarenakan tidak adanya fasilitas olahraga, lab dan perpustakaan bagi anak-anak sekolah.

Kepala Sekolah SMPN 3 Satu Atap Sungaiselan Azwir (43) mengungkapkan kondisi ini sudah berjalan sejak lama saat ia masuk menjadi kepala sekolah di tahun 2009 lalu.

"Beginilah keadaannya, pernah dulu ada wacana untuk dibangun fasilitas olahraga dan perpustakaan namun semua itu terkendala masalah tanah yang masih punya SD" ungkapnya kepada Bangka Pos Group.

Meski begitu, Azwir dan keenam guru lainnya tetap bertahan dan mengajar anak-anak sekolah meski mayoritas guru-gurunya berasal dari penduduk luar.

"Saya sendiri warga desa Lampur, ke sekolah biasa naik motor, namun berbeda dengan guru-guru dari Sungaiselan yang harus menyebrang sungai untuk sampai kesekolah" tutur Azwir.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help