Warga OKI Temukan Pertamax Bercampur Air di SPBU, Akibatnya Mesin Motor Jadi Rusak

Warga Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menemukan indikasi adanya penjualan pertamax bercampur air

Warga OKI Temukan Pertamax Bercampur Air di SPBU, Akibatnya Mesin Motor Jadi Rusak
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi SPBU Pertamina. 

POSBELITUNG.CO - Warga Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menemukan indikasi adanya penjualan pertamax bercampur air di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.306.30.

Hermansyah Y Noer, Region Manager Communication & CSR Pertamina Sumbagsel ketika dikonfirmasi membenarkan isu tersebut.

Menurut Hermansyah, pihak Pertamina telah memberikan peringatan kepada pemilik SPBU lantaran adanya kandungan air di dalam produk pertamax yang mereka jual.

Adanya air di dalam tangki pertamax di SPBU itu, lanjut Herman, karena terjadi kebocoran tangki.

"Kita berikan peringatan kepada pemilik SPBU terkait adanya kandungan air di produk pertamax. Pihak pemilik SPBU juga bertanggung jawab terhadap kejadian ini, khusunya kepada pelanggan yang menggunakan pertamax tersebut,” kata Herman, Kamis (3/5/2018). 

Saat ini, penjualan BBM jenis pertamax di SPBU 24.306.30 Kayuagung telah dihentikan sementara.

Pihak Pertamina pun menyelidiki kasus ini dan akan memberikan sanksi tegas jika ada unsur kesengajaan oleh pemilik.

“Untuk sementara penjualan pertamax dihentikan dulu guna dilakukan pemeriksaan dan perbaikan. Sementara belum ditemukan kesengajaan karena, begitu ada keluhan dari konsumen, pemilik SPBU dengan cepat langsung bertanggung jawab dan melakukan pemeriksaan dan tindakan yang diperlukan pada kendaraan miliki konsumen,” ujarnya.

Sebelumnya, beredar informasi keluhan dari masyarakat di Kabupaten OKI lantaran kendaraan mereka mendadak mogok seusai membeli BBM jenis pertamax di SPBU 24.306.30.

Setelah diperiksa di bengkel, filter bensin mobil mereka ditemukan berkarat karena pertamax yang mereka beli bercampur air.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help