Kebanyakan Gudeg di Yogyakarta Dijual Malam sampai Subuh, Ini Alasannya

Menyantap gudeg di daerah Yogyakarta butuh niat juga persiapan. Sebab kebanyakan gudeg legendaris memiliki jam operasional dari malam hari

Kebanyakan Gudeg di Yogyakarta Dijual Malam sampai Subuh, Ini Alasannya
KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI
Tinah, perintis Gudeg Mercon di Yogyakarta, Sabtu (21/4/2018). 

POSBELITUNG.CO  - Menyantap gudeg di daerah Yogyakarta butuh niat juga persiapan.

Sebab kebanyakan gudeg legendaris memiliki jam operasional dari malam hari, bahkan sampai subuh.

Alhasil bagi wisatawan yang tak biasa makan tengah malam, harus pintar mengatur waktu makan dan terjaga saat malam.

Mengapa para penjual gudeg ini memiliki jam operasional di malam hari?

"Iya, itu ada alasannya. Orang Jawa itu punya filosofi menikmati sesuatu paling bisa dilakukan di malam hari. Sebutannya mat matan," kata pemerhati Kuliner Indonesia dan penulis buku kuliner, Prof Dr. Murdijati Gardjito saat ditemui KompasTravel di kediamannya, Yogyakarta, Rabu (9/5/2018).

Istilah mat matan dalam Jawa dijelaskan Murdijati adalah merasakan sesuatu secara santai, perlahan-lahan, dengan perasaan.

Saat pagi ia menyebutkan biasanya orang sibuk menyiapkan hari, siang sibuk bekerja, dan malam menjadi sisa waktu untuk bersantai.

Tampilan penjualnya seperti gudeg Yogyakarta, ibu-ibu yang berdagang dikelilingi panci panci besar berisikan paket komplit hidangan tersebut.KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Tampilan penjualnya seperti gudeg Yogyakarta, ibu-ibu yang berdagang dikelilingi panci panci besar berisikan paket komplit hidangan tersebut.

Maka tidak heran, menurut Murdijati, di daerah Yogyakarta dan sekitar ada banyak makanan yang dijual hanya pada malam hari. Selain gudeg, ada pula bakmi jawa dan angkringan.

"Kebiasaan itu sudah lama, tetapi lebih tua kebiasaan gudeg dijual di pagi hari. Bubur gudeg itu banyak untuk anak-anak. Perhatikan kalau gudeg malam buburnya lebih sedikit," jelas Murdijati.

Konsumen gudeg di malam hari, lanjutnya, didominasi oleh laki-laki. Mereka adalah orang-orang yang sibuk mencari nafkah di pagi hari kemudian malam menikmati gudeg.

"Saat belum ada kesetaraan gender, perempuan pergi beli makan di malam hari itu dianggap kurang etis," sebut Murdijati. 

//

 
//
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help