Rumah Kontrakan Penuh Peledak, Tiap Minggu Pelaku Didoktrin Terorisme

Polisi menemukan sejumlah bahan peledak ketika melakukan penggeledahan di rumah Tri Murtiono, pengebom Polrestabes Surabaya.

Rumah Kontrakan Penuh Peledak, Tiap Minggu Pelaku Didoktrin Terorisme
Lokasi serangan bom di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018) pagi. 

POSBELITUNG.CO - Polisi menemukan sejumlah bahan peledak ketika melakukan penggeledahan di rumah Tri Murtiono, pengebom Polrestabes Surabaya.

Penggeledahan berlangsung sekira 3,5 jam, Selasa (15/5/2018), di rumah kontrakan Tri Murtiono, kawasan Tambak Medokan Ayu, Gang 6, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan hadir di lokasi penggeledahan.

//

Namun Kapolrestabes belum bisa memberikan keterangan detail mengenai jumlah dan jenis bahan peledak yang ditemukan di rumah tersebut.

"Ada bahan peledak, tapi belum bisa beri keterangan pasti, kasih waktu kami bekerja," ujar Kapolrestabes Surabaya. Selama penggeledahan tidak terdengar ledakan.

//

Tri Murtiono bersama istri dan tiga anaknya melakukan aksi bom bunuh diri di pintu gerbang Polrestabes Surabaya, Senin pagi. Dalam aksi itu, anak bungsu Tri Murtiono bernama Ais (8) tidak ikut tewas.

Tonton juga:

Aksi Tri Murtiono sekeluarga terjadi sehari setelah keluarga Dita Oepriyanto (Ketua Jamaah Ansharut Daulah/JAD Surabaya) melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi.

Pada malam harinya terjadi ledakan di rumah Anton Febrianto, di rusunawa Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Para pengebom itu saling mengenal satu sama lain. Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin menjelaskan Tri Murtiono dan Anton Febrianto berguru kepada Dita.

Mereka ini melakukan pertemuan setiap minggu di rumah Dita, kawasan Rungkut, Surabaya.

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita. Mereka didoktrin pemahaman teror," jelas Machfud di Polda Jatim, Surabaya, Selasa. Machfud menuturkan, mereka berkumpul setiap minggu sejak lama.

Tonton juga:

Selain menerima doktrin, Tri dan Anton juga menonton film film soal terorisme.

Tidak hanya para orangtua, kata Machfud, anak anak mereka juga ikut mendengarkan doktrin dari Dita.

"Bahkan, anak anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya, mereka bilang (anak-anak) ikut home schooling. Padahal sebenarnya mereka tak boleh sekolah. Anak anak didoktrin terus, ditontonkan video mengenai teroris," ujar Machfud.

Kapolda menambahkan ada seorang anak Anton Febrianto yang tak mau ikut kelompok itu. Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan untuk bersekolah.

Machfud menerangkan, para pelaku kompak melakukan serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo ini lantaran ini ingin masuk surga.

"Mereka (pelaku) ini ingin masuk surga bareng bareng," terang Machfud.

Menurut Kapolda, saat ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror tengah memburu sosok yang menjadi guru dari Dita.

"Ada dua orang yang sedang dikejar, mudah mudahan cepat ditangkap. Dua orang ini perannya sangat penting," jelas Machfud.

Tonton juga:

Warga keluar rumah
Saat dilakukan penggeledahan di rumah Tri Murtiono, warga diminta mengosongkan rumahnya karena alasan keamanan.

"Tolong semua warga mengosongkan rumah hingga radius 350 meter, ini untuk keselamatan kita bersama," ujar polisi melalui pengeras suara.

Seketika warga yang sebelumnya bertahan di dalam rumah langsung keluar.
Mereka menjauh hingga radius yang di tentukan. "Ayo Bu cepat menjauh, ini katanya ada bom di sana (menunjuk ke arah kontrakan Tri Murtiono)," ucap seorang warga pada warga yang lain.

Pada awal penggeledahan hanya terdapat satu mobil Tim Gegana, namun pada sekira pukul 12.50 WIB ada satu tambahan mobil gegana di area penggeledahan.

Selang 10 menit kemudian, satu unit mobil pemadam kebakaran muncul dan menarik selang air hingga di area depan rumah kontrakan Tri Murtiono.

Beberapa saat sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, Tri Murtiono ternyata masih sempat memesan air galon. Ia bahkan menceramahi penjual air galon yang mengirim barang ke rumahnya.

Kasida (54), penjual air galon mengungkapkan, Tri Murtiono memesan air galon pada Minggu malam. "Saya antarkan pesanan pada Senin pagi, sekitar pukul 06.00," ujar Kasida.

Saat obrolan tersebut terjadi, diluar dugaan, Kasida juga diceramahi dan mendapat pengertian tentang agama dari Tri Murtiono.

"Ia bilang hidup itu dipasrahkan saja pada Allah, jangan terlalu mengejar dunia. Ia juga menyampaikan beberapa Hadist, tapi karena saya juga kurang paham hanya manggut manggut saja," ucapnya.

Sekira 30 menit mengobrol, Tri Murtiono mengaku hendak segera berangkat kerja. Kasida baru tahu Tri menjadi pengebom bunuh diri ketika sejumlah polisi mendatangi rumah tersebut Senin malam. (surya/tim)

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved