Banyak Senjata di Kontrakan Terduga Teroris, Istri Anggap Suaminya Korban SalahTangkap

Densus 88 Mabes Polri membekuk 6 orang terduga teroris. Dari 6 orang itu, 5 di antaranya adalah warga Depok

Banyak Senjata di Kontrakan Terduga Teroris, Istri Anggap Suaminya Korban SalahTangkap
Kediaman terduga teroris MM di RT 06/RW 22 Kelurahan Mekar Jaya, Depok, Jawa Barat, usai digeledah Densus 88. 

"Jadi dua istrinya tinggal satu atap di rumah kontrakannya. Sepenglihatan saya, selama ini mereka sangat tertutup," katanya.

Digeledah

Sementara itu satu orang terduga teroris yang ditangkap di Jakarta adalah S, yang menempati rumah kontrakan di kontrakan di RT 04/04, Kelurahan Harapan Mulia, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Ia ditangkap Densus 88 di Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta Pusat. Polisi lalu menggeledah rumahnya di Kemayoran.

Ketua RW 04 Harapan Mulia, Novi Jumiadi, mengatakan bahwa sebelum Densus 88 menggeledah kontrakan S, ia dihubungi oleh sekuriti di wilayahnya yang memberitahukan adanya penggeledahan.

Saat mendatangi lokasi, ia langsung bertemu pemimpin proses penggeladahan itu yang didampingi oleh Kapolsek Kemayoran Kompol Saiful.

Terdapat belasan anggota polisi beserta 8 mobil yang mengawal proses penggeledahan itu.

"Saya diminta untuk menyaksikan penggeledahan. Saya belum tahu kasusnya apa, saya kira narkoba kali. Enggak tahunya saya lihat polisi bawa senjata laras panjang semua. Ini Densus 88," ucap Novi saat ditemui Warta Kota, Senin (9/7) malam.

Novi pun menyaksikan polisi membawa banyak barang bukti kardus-kardus berisi senjata saat menggeledah kamar kontrakan seluas kurang lebih 3x5 meter.

"Ada banyak sekali, ada granat tangan, panah, busur, peluru tajam. Ada 5 kardus dibawa, satu mobil penuh muat itu," ujarnya.

Yakin salah tangkap

Istri S yakni Y (32) menyatakan bahwa suaminya bekerja sebagai anggota Satpam.

Selain itu, untuk tambahan penghasilan, pada waktu luang S juga menjadi pengemudi ojek online (ojol).

Oleh sebab itu, Y meyakini bahwa suaminya tidak pernah mengikuti organisasi yang berbau terorisme lantaran sibuk mencari nafkah.

"Namanya sekuriti kan kerja dua hari siang, dua hari malam. Dia kalaupun ada waktu pulang kerja, misalnya masuk pagi berangkat jam 6 pagi pulang jam 3 sore. Jam 3 sore langsung nge-Grab kan. Nge-Grab nyampe rumah udah jam 8 malam. Capek dong sudah, istirahat, makan, tidur. Sudah aktivitasnya itu saja," kata Y saat ditemui Warta Kota, Senin (9/7) malam.

Oleh karena itu Y meyakini bahwa suaminya tidak bersalah dan hanya jadi korban salah tangkap.

Y yang sudah menikah dengan S selama kurang lebih 4 tahun dan dikaruniai 2 orang anak, juga menyatakan bahwa suaminya tidak pernah mengikuti organisasi apapun.

Y mengaku bahwa suaminya diamankan pada pagi hari oleh Densus 88 saat dirinya sudah berangkat bekerja.

Ia pun terkaget-kaget saat pulang sekitar pukul 17.00, rumah kontrakannya sudah dikerumuni massa beserta Densus 88.

"Pagi masih ketemu, terus jam 9 pagi saya berangkat kerja. Kemudian jam 10 saya ngabarin kalau sudah sampai kantor, kok enggak kekirim pesan singkat saya. Lalu saya telepon, HP-nya enggak aktif. Lalu jam setengah 6 sore pulang, kok sudah ada ramai-ramai. Ya, saya baru tahu kalau ada penggeledahan," ungkapnya. (bum/abs)

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved