Untuk Cari Selamat dan Dagangan Laris, ‘Pengantin’ pun Disembelih

Kedengarannya sadis, untuk cari selamat kok harus menyembelih pengantin segala.Tapi percayalah, tak satu pun ada korban manusia

Untuk Cari Selamat dan Dagangan Laris, ‘Pengantin’ pun Disembelih
ilustrasi 

Namun berbagai keramaian telah digelar sejak seminggu sebelum upacara tersebut  berlangsung. Pasar malam, pameran pembangunan, sampai berbagai pentas kesenian tradisional digelar di lapangan depan Balai Desa Ambarketawang, terletak sekitar 5 km sebelah barat Kota Yogyakarta.

Upacara tradisional Saparan saat ini memang telah tumbuh mekar sebagai peristiwa budaya bernuansa kepariwisataan yang menarik dan selalu dibanjiri pengunjung, yang datang dari berbagai daerah sekitarnya.

Bahkan tidak sedikit wisatawan mancanegara yang sengaja berkunjung untuk menyaksikan upacara adat yang unik dan langka ini.

Arak-arakan upacara adat Saparan dimulai dari lapangan Balai Desa Ambarketawang menuju bukit kapur yang berjarak sekitar 3 km di selatan Balai Desa.

 
 

Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, rombongan pamong desa Ambarketawang dengan naik kuda dan andong mendahului arak-arakan ini, disusul oleh bregada prajurit Keraton Yogyakarta, prajurit Wiratani dari Gamping Tengah, bregada prajurit Wirosuto dari Gamping Kidul, rombongan Muspida Kabupaten Sleman, rombongan Muspika Kecamatan Gamping, disusul rombongan pembawa gunungan yang terbuat dari hasil pertanian dan perkebunan.

Rombongan berikutnya dalam iring-iringan tersebut adalah pembawa joli-joli (tandu) yang berisi bekakak pengantin dan sesaji. Setiap joli diusung oleh empat orang.

Joli ini dikawal oleh sepasang gendruwo dan wewe (semacam ondel-ondel) yang dibawa dan diperankan oleh warga setempat.  Tak ketinggalan rombongan pemusik hadrah yang menyanyikan lagu-lagu pujian (salawatan).

Suasana di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan itu sungguh meriah. Ribuan orang berjubel menanti lewatnya iring-iringan tersebut, sebagian berjalan bergerombol menuju bukit kapur.

Tempat penyembelihan bekakak masing-masing di bekas Bukit Kapur Ambarketawang di Desa Delingsari dan sebuah tempat penyembelihan lagi di bekas bukit kapur di Desa Tlogo. Kedua tempat penyembelihan ini berada di sebelah utara situs Pesanggrahan Ambarketawang, tempat Sultan HB I pernah tinggal.

Setelah iring-iringan tiba di bukit kapur, bekakak dikeluarkan dari joli masing-masing. Di sebuah bangunan berbentuk panggung setinggi 3 m, disembelihlah leher kedua pasang bekakak pengantin.  Darah yang terpancar dari lehernya dipercik-percikkan ke sekeliling bukit kapur.

 
 

Setelah itu mulailah sesajian dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Orang pun berdesak- desakan, saling dorong mendorong dan berebutan untuk memperoleh sepotong panganan yang amat berarti buat mereka.

Mereka tak peduli jatuh bangun di tanah, pokoknya mendapat sepotong sesaji yang telah diberi doa-doa.

"Saya jauh-jauh datang ke sini memang hanya untuk memperoleh potongan sesaji ini, Mas. Nanti setelah sampai di rumah langsung saya tanam di dalam warung agar memperoleh berkah dan warung saya tambah laris," ungkap Endang (56), warga Dusun Suroyudan, Godean, Sleman.

Upacara tradisi Saparan itu hingga kini masih diyakini nilai sakralnya oleh masyarakat Gamping. Meski diakui, telah mengalami pergeseran di sana-sini, namun tetap dipertahankan sebagai salah satu kekayaan budaya dan kekhasan kota Yogyakarta.

 
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help