Siswa SMP dari Pegunungan Meratus Pilih Nikah Dini Karena Tak Mampu Bayar Uang Sekolah

Kasus putus anak sekolah dengan alasan biaya, ternyata masih terjadi khususnya bagi anak-anak yang bermukim di desa terpencil

Siswa SMP dari Pegunungan Meratus Pilih Nikah Dini Karena Tak Mampu Bayar Uang Sekolah
Ilustrasi 

POSBELITUNG.CO - Kasus putus anak sekolah dengan alasan biaya, ternyata masih terjadi khususnya bagi anak-anak yang bermukim di desa terpencil pegunungan meratus, Hulu Sungai Tengah.

Alasan tak bisa melanjutkan sekolah karena tak mampu membayar SPP itu pula, membuat masih ada lulusan SMP yang melakukan pernikahan dini.

Seperti dilakukan Samidah (16) warga Pantai Mangkiling (anak Desa Datarajab), Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah.

Samidah, lulus SMPN 2 Satap Hinas Kiri, Kecamatan Batangalai Timur, HST April 2018 lalu.

Kepada BPost Online dia menceritakan keinginannya untuk melanjutkan ke SMKN 2 Pagat Mei lalu. Dia bersama temannya mencari informasi ke sekolah tersebut.

Infnformasi yang diterima kata Samidah ternyata sekolah tak lagi gratis, atau bebas biaya. Tapi ada iuran SPP yang harus dibayar per bulan. Bahkan ada biaya daftar ulang sama beli baju. Selanjutnya, Samidah mengaku kembali mencari informasi di SMAN 9 Batangalai Timur.

“Ternyata di sana juga bayar SPP dan pakai biaya. Ayah saya hanya petani padi. Ibu sudah meninggal dunia, dan saat ini adik bungsu saya masuk SMP. Ayah saya bilang tidak sanggup lagi membiayai sekolah saya jika saya melanjutkan ke SMA atau SMKN 2 Pagat yang saya sebenarnya ingin sekali melanjutkan. Tapi saya tidak tega melihat kondisi ayah yang sudah tua dan harus kerja keras jika saya melanjutkan sekolah,”tutur Samidah.

Samidahpun mengatakan terpaksa mengubur mimpinya melanjutkan sekolah minimal tamat SMA/SMK tersebut, hingga dia memutuskan menikah dini. Dia menikah dengan teman SMP-nya dari Desa Batukambar.

“Sebenarnya tak hanya saya yang tak bisa melanjutkan sekolah karena biaya. Ada juga beberapa teman seangkatan di SMP yang memilih menikah karena merasa tak punya harapan bisa sekolah lagi,”ungkap Samidah.

Samidah saat ini mengaku tinggal di Tanjung, Tabalong bersama suaminya yang menjadi buruh angkut kayu di sebuah usaha pengolahan kayu.

Halaman
123
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help