Dibakar Cemburu Usai Berhubungan Intim, Suami Cekik Leher Istri

Diketahui kematian ibu muda berusia 24 tahun atas nama Wahyu Nuriski Anisa, dianggap oleh keluarga tak wajar.

Dibakar Cemburu Usai Berhubungan Intim, Suami Cekik Leher Istri
Tribunjateng.com/Budi Susanto
Hartono saat dibawa ke Mapolres Pekalongan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Rabu (1/8/2018). 

POSBELITUNG.CO-- Titik terang terkait kematian ibu muda berparas cantik asal Dukuh Peklontongan, Desa Sumub Kidul RT 14 RW 5 Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan akhirnya didapat jajaran Polres Pekalongan.

Diketahui kematian ibu muda berusia 24 tahun atas nama Wahyu Nuriski Anisa, dianggap oleh keluarga tak wajar.

//

Pasalnya ada bekas lebam di sekitar leher.

Sehingga pihak keluarga meminta dilakukan pembongkaran makam guna pemeriksaan sebab kematian Anisa.

//

Tim DVI Polda Jateng yang kala itu melakukan autopsi pada Selasa (24/7), menyebutkan sebab kematian Anisa karena kehabisan nafas akibat cekikan di leher.

Berdasarkan laporan dari Tim DVI Polda Jateng, Unit Reskrim Polres Pekalongan bergerak dan melakukan pemeriksaan terkait kematian Anisa.

Dari hasil pemeriksaan, Hartono (29) yang merupakan suami dari Anisa dinyatakan petugas sebagai pelaku pencekikan yang mengakibatkan meninggalnya ibu 24 tahun tersebut.

Saat diperiksa Hartono mengakui lantaran cemburu, karena ditelefon genggam istrinya terdapat foto lelaki lain.

Sehingga ia mencekik leher Anisa yang berbuntut istrinya meninggal dunia.

"Saya tidak berniat membunuh istri saya, namun karena melihat ada foto lelaki lain di telepon genggam istri saya, saya jadi muntab dan emosi," katanya dalam gelar perkara di Mapolres Pekalongan, Rabu (1/8/2018).

Suami dari Anisa tersebut menuturkan, sebelum cekcok, ia dengan istrinya sempat berhubungan badan. Dan kemudian meminjam telepon genggam sang istri.

"Setelah berhubungan, karena ada foto lelaki lain kami bertengkar, istri saya sempat mengambil gunting dan mengancam akan melukai anak kami yang sedang tidur."

"Saya berusaha merebut gunting yang ada di tangan istri saya, spontan saya mencekik leher istri saya dan membekapnya. Istri saya hanya terdiam kemudian anak kami bangun dan minta pindah tidur di rumah neneknya," paparnya.

Betapa terkejutnya Hartono mengetahui sang istri meninggal dunia usai mengantarkan anaknya ke rumah sang nenek.

"Saya sangat menyesal, karena tidak ada niatan membunuh. Persoalan lelaki lain dalam rumah tangga saya sudah berlangsung lama, dan beberapa kali saya beritahu agar dia tidak menyimpan foto lelaki lain karena sudah punya suami dan anak," terang Hartono yang sudah menikahi Anisa dari 2012 lalu.

Adapun Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Agung Ariyanto mengatakan, pembunuhan dipicu rasa cemburu pelaku yang menganggap korban melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain.

"Tersangka akan dijerat Pasal 368 subsider 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan 7 tahun," timpalnya.

Pada 24 Juli 2018 lalu, makam Wahyu Nuriski di Desa Sumub Kidul dibongkar.

Ratusan orang berkumpul ingin melihat proses pembongkaran pusara tersebut.

Wahyu Nuriski dikebumikan pada 10 Juni 2018 atau sudah lebih dari sebulan.

Namun karena dugaan meninggal tak normal, pihak keluarga meminta petugas berwajib melakukan otopsi.

Adapun pembongkaran dilakukan tim DVI Polda Jateng, atas laporan pihak keluarga pada 3 Juli 2018 ke Satreskrim Polres Pekalongan.

Satreskrim Polres Pekalongan yang mendapat laporan tersebut langsung melakukan pemeriksaan sejumlah saksi dan mendatangkan Tim DVI Polda Jateng.

Selanjutnya dilakukan pembongkaran makam.

Seorang warga Desa Sumub Kidul, Slamet (50), mengatakan keluarga sedang di Jakarta saat jenazah Wahyu dimakamkan.

"Dia meninggal 10 Juni pukul 05.30 WIB," katanya.

Adapun Suyanto kakak sepupu Wahyu, mengungkapkan, pihak keluarga meminta makam saudaranya dibongkar karena saat meninggal ada luka lebam di sekitar leher.

"Kami memang meminta makam Wahyu dibongkar karena ada kecurigaan keluarga kami meninggal dengan cara tak wajar, karena kondisi jenazah saat akan dikebumikan ada lebam yang menghitam di leher," jelasnya.

Warga memadati makam di Desa Sumub Kidul, Kecamatan Sragi, Kebupaten Pekalongan, saat Tim DVI Polda Jateng melakukan pembongkaran makam untuk melakukan otopsi, Selasa (24/7/2018).
Warga memadati makam di Desa Sumub Kidul, Kecamatan Sragi, Kebupaten Pekalongan, saat Tim DVI Polda Jateng melakukan pembongkaran makam untuk melakukan otopsi, Selasa (24/7/2018). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

AKP Agung Ariyanto saat itu menuturkan, pembongkaran makam dilakukan berdasarkan permintaan pihak keluarga, yang curiga kematian keluarganya 40 hari lalu secara tidak wajar.

"Laporannya memang agak terlambat. Mungkin kecurigaan-kecurigaan muncul setelah berjalannya waktu, ditambah berbagai suara-suara (komentar warga) yang berkembang di masyarakat. Untuk hasil otopsi menunggu pemeriksaan yang dilakukan jajaran Polda," timpalnya. (*)

Editor: khamelia
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved