Kisah Etik, IRT yang Ingin Jual Ginjal di Tanjungpandan, Keluarga Akhirnya Berikan Klarifikasi

Perwakilan keluarga Etik (34) membantah pemberitaan terkait seorang ibu rumah tangga (IRT) yang berniat menjual ginjalnya

Kisah Etik, IRT yang Ingin Jual Ginjal di Tanjungpandan, Keluarga Akhirnya Berikan Klarifikasi
Pos Belitung/Dede Suhendar
Eti warga Pondok Pinang Baru tepatnya di belakang Kantor Pengadilan Negeri Belitung, Kelurahan Kampong Damai, Kecamatan Tanjungpandan?, Kabupaten Belitung berniat menjual ginjal, Selasa (11/9/2018) 

Laporan Wartawan Pos Belitung Dede Suhendar

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Perwakilan keluarga Etik (34) membantah pemberitaan terkait seorang ibu rumah tangga (IRT) yang berniat menjual ginjalnya.

Menurut pria yang enggan disebutkan namanya itu, Etik ternyata sedang mengalami gejala depresi‎. Sehingga segala perbuatan yang dilakukannya tanpa memikirkan dampak baik dan buruk.

"Jadi jujur saja, kakak saya itu memang kondisinya bisa dikatakan ada gejala depresi. Sehingga dia memikirkan dampak ke depannya, jadi semuanya instan dilakukan begitu saja," ujar pria yang mengaku salah satu adik Etik itu saat mendatangi kantor posbelitung.co, Rabu (12/9/2018).

Baca: IRT Tanjungpandan Ini Nekat Jual Ginjal, Alasannya Bikin Ngelus Dada

Ia mengatakan sebagai perwakilan keluarga meluruskan pemberitaan tersebut. Dirinya juga berharap masyarakat yang sudah membaca berita itu bisa memaklumi kondisi yang dialami ‎kakaknya itu.

Dirinya menilai masyarakat Belitung sudah lebih pintar dalam memilah mana yang mengedukasi dan tidak.

Lelaki itu memang tidak bisa menjelaskan secara gamblang penyebab kondisi yang tengah diderita oleh kakaknya.

Namun, kata dia, semenjak beberapa waktu belakangan gelaja depresi itu memang kerap terlihat.

"Intinya kami dari keluarga membantah dan berita itu tidak benar. Saya berharap karena ini sudah terlanjut di media, masyarakat bisa memakluminya," katanya.

Ia mengakui dari kejadian tersebut, keluarganya mendapat hikmah positif. Menurutnya persoalan hidup yang terjadi bukan semata-mata dipandang dari sisi ekonomi saja, tapi bagaimana menjaga keutuhan dan keharomisan keluarga.

Ia menegaskan keluarganya tidak membutuhkan sumbangan apapun dari masyarakat. Sebab, kata dia, seseorang yang sudah depresi tidak akan selesai dengan uang, tetapi harus mengetahui penyebab terjadinya gejala tersebut.

"Kami tidak butuh uang sumbangan apapun buat kakak saya. Tapi saya butuh gimana keluarga saya ini kumpul ‎dan saling menguatkan, itu sebenarnya solusinya," katanya.

Penulis: Dede Suhendar
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help