Disambut Ular Hijau Hingga Kelelawar, Begini Cerita Situs Tambang Timah Primer Pertama di Belitung

Yanto nyaris saja terpeleset saat menuruni sebuah parit sedalam kurang lebih empat meter di kaki Gunong Tajau. Setelah berhasil

Disambut Ular Hijau Hingga Kelelawar, Begini Cerita Situs Tambang Timah Primer Pertama di Belitung
Pos Belitung/Wahyu Kurniawan
Caption : Fotografer Belitong Yanto sedang mengecek mulut gua Lubang Nyalar di Gunong Tajau, Dusun Parit Gunong, Desa Air Batu Buding, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Selasa (16/5/2017) 

POSBELITUNG.CO - Yanto nyaris saja terpeleset saat menuruni sebuah parit sedalam kurang lebih empat meter di kaki Gunong Tajau. Setelah berhasil menyeimbangkan tubuh, matanya kemudian tertuju pada sebuah gua di pangkal parit.

”Ini Lubang Nyalar yang dibilang warga, kemarin dulu waktu aku ke gua ini, ada ular tepat di depannya, ular warna hijau,” kata Yanto fotografer Belitong kepada Pos Belitung, Selasa (16/5/2017).

Memang tanpa ular sekalipun, kesan mengerikan sudah tampak ketika pertama kali melihat gua tersebut. Sebab pemandangan di sekitarnya diselimuti batu-batu berlumut dan akar-akar pohon. Sementara bagian dasar parit juga berlumpur dan teraliri air yang bersumber dari dalam gua.

Bau menyengat dari dalam gua sudah tercium dari jarak 10 meter. Lalu sejumlah kelelawar berterbangan ketika mulut guanya terusik oleh kedatangan manusia.

Tapi Yanto tak bergeming menghadapi situasi tersebut. Pilot drone ini malah duduk di depan mulut gua sambil menyiapkan peralatan fotografinya. Mungkin rasa penasaran telah mengalahkan ingatannya tentang ular yang belum lama tertangkap lensa kameranya sendiri.

”Kemarin aku cuma sendiri, jadi agak was-was juga kalau mau turun sampai ke mulut gua,” ujarnya sambil mengacungkan kameranya ke dalam gua.

Lubang Nyalar
Lubang Nyalar (Pos Belitung/Wahyu Kurniawan)

Dimensi mulut gua Lubang Nyalar berukuran kurang lebih 160x150 sentimeter. Reruntuhan tanah dan bebatuan sudah menutupi sebagian mulut gua. Semakin ke dalam, tampak dimensi gua tersebut semakin mengecil. Bagian dasarnya digenangi air dan langit-langitnya juga tak berhenti menitikkan air.

Rudin (49) adalah salah seorang yang mengaku pernah menyusuri bagian dalam gua. Menurut warga Dusun Air Bergantung ini, Lubang Nyalar memiliki terowongan bawah tanah yang panjangnya mencapai ratusan meter dan terdapat sejumlah persimpangan di dalamnya.

Semakin ke dalam, lumpur guano di gua tersebut semakin tebal. Bahkan menurut Rudin ada yang sudah sampai setinggi perut. Namun pria berpostur setinggi kurang lebih 155 sentimeter ini mengaku bisa berjalan normal di bagian dalam goa, tanpa harus membungkukkan badan.

”Baru-baru dalam tahun ini lah aku masuk ke dalam, mungkin ada sekitar 3 jam dari masuk sampai ke luar lagi,” kata pria yang berprofesi sebagai petani ini kepada Pos Belitung, Selasa sore.

Halaman
123
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved