Pemda Babel Cuma Gertak Sambal, Sawit Petani Bangka Malah Semakin Tak Laku

Gertakan pemerintah daerah (Pemda) pada perusahaan pemilik pabrik CPO perkebunan sawit, malah tak ada artinya.

Pemda Babel Cuma Gertak Sambal, Sawit Petani Bangka Malah Semakin Tak Laku
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Rapat antara Asoiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Babel dengan perusahaan Kelapa Sawit dan pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di ruang rapat Romodong, Jum'at (28/9/2018). 

POSBELITUNG.CO-- Sejumlah petani menduga, Pemprov Babel hanya gertak sambal seolah mematok harga tinggi pada nilai jual TBS sawit di tingkat petani mandiri. Gertakan pemerintah daerah (Pemda) pada perusahaan pemilik pabrik CPO perkebunan sawit, malah tak ada artinya. Buktinya, perusahaan pabrik dan tengkulak malah tak mau membeli buah petani.

Seorang pedagang pengumpul atau pembeli TBS sawit di kebun petani mandiri, EP (45) kepada Bangka Pos Group, Rabu (3/10/2018) mengaku, tak bisa seperti dulu lagi membeli buah sawit petani.

"Gimana kami mau beli buah petani, kalau jatah pengiriman kami ke pabrik dibatasi, hanya bisa kirim buah seminggu sekali. Kalau kami beli, dan tidak terjual, buah bisa busuk di penampungan, maka kami yang rugi," katanya.

Mengena harga, EP (45) mengaku tak ada perubahan. Ia tetap membeli TBS di kebun petani pada kisaran harga seperti dua pekan sebelumnya, yaitu Rp 500 hingga Rp 600 perkg.

"Kalau soal harga beli, kami masih beli buah petani seperti harga seperti harga sebelumnya, itu pun tak bisa beli setiap hari," katanya.

Pedagang pengumpul atau pembeli buah sawit petani mandiri lainnya, UN (40) mengatakan hal senada.

Hanya saja, UN mengakui sebenarnya ada sedikit kenaikan harga beli TBS sawit yang dipatok oleh pabrik atau persuahaan kepada pedagang pengumpul.

"Kalau harga beli, sebenarnya ada kenaikan sedikit. Tapi masalah, pabrik kan tidak mau beli, karena alasan pabrik produksi kebun perusahan mereka sedang meluber. Makanya kami juga tidak mau beli," tambahnya.

Fani (40), Petani Sawit di Desa Tutut Kecamatan Pemali Bangka, mengaku hanya memiliki kebun sekitar tiga hektare. Sedangkan hasil yang didapat sekali panen hanya sekitar tiga ton.

Ia mengaku tak mungkin menjual hasil panen langsung ke pabrik, karena jumlah terbatas sehingga terpaksa jual ke pedagang pengumpul.

"Buah sawit kami hanya dibeli Rp 540 perkg," kata Fani seraya mngeluh, Rabu (3/10/2018).

Kurniawan (38), petani sawit di Desa Karyamakmur Kecamatan Pemali, juga mengeluh. Beberapa bulan lalu, TBS sawit hasil panen di kebunnya dibeli pedagang pengumpul pada kisaran sekitar Rp 900 hingga Rp1000 perkg. Namun sejak tiga bulan terakhir harga berkisar angka Rp 500 hingga Rp 600 perkg. Padahal TBS atau buah sawit Kurniawan, dihasilkan dari pohon sawit yang sudah berusia 10 tahun lebih.

"Beberapa hari lalu, saya dengar di media massa bahwa pihak Pemprop Babel bilang akan cabut ijin perusahan kalau beli murah buah petani. Tapi buktinya sekarang, kami mau jual buah saja susah, pedagang pengumpul banyak yang tidak mau beli, karena perusahan atau pabrik CPO hanya terima pengiriman buah dari pedagang, seminggu sekali," keluhnya.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: khamelia
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved