Syarat Ritual Adat, Kapal Boat Giring Jong hingga ke Tengah Laut

Kapal berukuran kecil, Rabu (10/10/2018) langsung dipanggul oleh masyarakat dari pesisir pantai Tanjung Kelayang, Desa Keciput

Syarat Ritual Adat, Kapal Boat Giring Jong hingga ke Tengah Laut
Pos Belitung/Disa Aryandi
Puluhan warga mengangkat kapal Jong, Rabu (10/10) untuk mengantarkannya ke tengah laut. 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Kapal berukuran kecil, Rabu (10/10/2018) langsung dipanggul oleh masyarakat dari pesisir pantai Tanjung Kelayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk. Lantas kapal berwarna merah biru itu dibawa ke atas kapal besar. Kapal yang sudah dilengkapi dengan bendera merah putih ini biasa di sebut Jong.

Kemudian, masyarakat membawa kapal tanpa awak tersebut ke tengah laut. Ada puluhan kapal yang biasa dipergunakan untuk membawa wisatawan dan ratusan masyarakat mengiringi kapal jong tersebut. Sesampai di perairan laut yang dalam, mereka melepaskan kapal tersebut.

Pelepasan kapal jong ini, sebagai salah satu syarat untuk melengkapi budaya Muang Jong. Kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) dan Waka Polres Belitung Kompol Susanto itu setiap tahun dilaksanakan tanggal 10 Oktober.

Ritual Muang Jong merupakan salah satu wujud syukur masyarakat nelayan, yang telah diberikan rejeki dari hasil laut dan sekaligus tujuannya untuk memohon perlindungan agar terhindar dari marabahaya selama mengarungi laut.

"Ini semua dilakukan oleh masyarakat sendiri dan memang setiap tahun dilakukan. Sebagai generasi penerus, ini sudah dilakukan secara turun menerun dari orang tua kami terdahulu," kata Ketua Panitia Selamat Laut Maung Jong Sarpat kepada Posbelitung.co.

Mereka berharap, ritual tersebut bukan hanya sebagai acara adat budaya di Belitung saja. Namun sekaligus meneruskan adat budaya, kegiatan ini sebagai bentuk mendorong kemajuan wisata di Belitung. Terutama di Tanjung Kelayang yang semakin dikenal dunia.

"Kami harap kita harus bersinergi untuk mendapatkan hasil yang baik. Terutama dari masyarakat, pelaku wisata, dan pemerintah. Jadi kedepan kemajuan pariwisata ini didukung dengan adanya budaya seperti ini," ujarnya.

Sementara Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) mengatakan, pelestarian adat budaya muang jong tentu harus tetap dipertahankan. Agar tradisi suku laut di Belitung bisa dipertahankan buat menopang pengembangan pariwisata.

"Ini juga agar tidak funa, dan merupakan warisan budaya dunia. Ritual ini saya berharap tetap dilestarikan sebagai objek cagar budaya yang dimiliki Belitung," kata Sanem.

Kata Sanem, muang jong merupakan suatu kekayaan budaya Indonesia, dan pemerintah saat ini tengah bersiap mengajukan Geopark Global. Tradisi muang jong, tercatat dalam dokumen yang akan diajukan ke Unesco.

"Jika nanti sudah diakui dunia, maka adat muang jong ini menjadi suatu kekayaan dunia. Karena adat istiadat ini menjadi bagian yang tidak terpisahkaan dari suku laut. Maka dari itu saya meminta, agar kelestarian budaya ini tetap dilestarikan," pungkasnya. 

Penulis: Disa Aryandi
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help