Intip Warung Perenggu, Pemilik Berwirausaha Sambil Beramal

Rumah tradisional terletak di Jalan Lettu Mad Daud dilengkapi jendela jadul, namun berwarna cerah seperti kuning dan hijau

Intip Warung Perenggu, Pemilik Berwirausaha Sambil Beramal
Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari
Suasana di warung makan Perenggu di Jalan Lettu Mad Daud, Kelurahan Tanjung Pendam pada Kamis (11/10/2018). 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Adelina Nurmalitasari

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Rumah tradisional terletak di Jalan Lettu Mad Daud dilengkapi jendela jadul, namun berwarna cerah seperti kuning dan hijau.

Meski sederhana, rumah tersebut di desain dengan penambahan hiasan dinding berupa tikar daun lais. Atap yang digunakan merupakan atap sirap yang menambah kesan tradisional.

Itulah kesan yang terasa di warung makan Perenggu milik Yuli. Warung yang ada sejak 2017 ini menurutnya merupakan usaha keluarga, makanya nama tempatnya pun disebut Perenggu yang merupakan bahasa lokal berarti keluarga.

Semua menu-menu yang disajikan di warung tersebut merupakan makanan khas Belitung seperti Mie Belitung, Soto Belitung, Bakso Kampong, dan lainnya.

Harga menu makanannya pun tak menguras kocek, paling mahal harga seporsi makanan hanya Rp 12.000. Bahkan cemilan es jajak yang kini mulai jarang ditemukan pun dijual dengan harga terjangkau Rp 2.000.

"Biasanya di sini paling ramai di akhir pekan seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu karena banyak tamu travel. Namun memang tempatnya kecil sehingga hanya dapat menampung maksimal sekitar 50 orang," kata Yuli pada Kamis (11/10/2018).

Sebelum membuka warung makan, dulunya tempat tersebut digunakan pemilik membangun tempat usaha seperti toko pancing hingga toko oleh-oleh. Tak berjalan mulus, Yuli pun akhirnya memilih membuka warung makan.

Sebelum membuka warung makan, wanita berjilbab ini berulang kali mencoba resep agar memiliki rasa yang lezat. Anggota keluarganya pun menjadi tester untuk mencicipi resep-resep dari menu yang dikembangkannya.

Saat dirasa pas dan akan sesuai selera pelanggan, barulah menu ini ditawarkan di warung tersebut.

"Dua kali dulu kami gagal, sampai sempat buka toko oleh-oleh juga. Tapi buka warung inilah, jual Mie Belitung, baru ada biro perjalanan yang mampir dan bawa tamunya kesini, kemudian Alhamdulillah jadi mulai banyak yang tahu," ujar Yuli.

Keuntungan hasil penjualan usaha keluarga ini dijadikan pemilik sebagai ladang beramal. Selama setahun sejak dibuka, pemiliknya rutin bersedekah dengan memberikan sembako kepada fakir miskin.(*)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved