Terindikasi HIV/AIDS, Kasus LGBT Memakan Korban di Belitung, Ini Kata Dinkes

Kasus Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau Lesbian Gay Biseksual, Transgender (LGBT), Jumat (19/10/2018) sudah merenggut nyawa

Terindikasi HIV/AIDS, Kasus LGBT Memakan Korban di Belitung, Ini Kata Dinkes
Pos Belitung/Disa Aryandi
Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Musrani.

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kasus Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau Lesbian Gay Biseksual, Transgender (LGBT), Jumat (19/10/2018) sudah merenggut nyawa.

Ada dua orang LSL meninggal dunia, karena melakukan penyimpangan hubungan seks. Dua orang itu meninggal dunia, lantaran sudah terindikasi HIV/AIDS dan tidak bisa tertolong lagi oleh medis.

Dua orang itu, meninggal dunia pada bulan Januari 2018 dan Juli 2018 kemarin. Kondisi terakhir, mereka sempat melakukan perawatan di RSUD H Marsidi Judono Kabupaten Belitung. Diduga HIV/AIDS dua orang tersebut, muncul lantaran berhubungan seks sesama jenis.

"Tahun ini sudah orang yang meninggal dunia karena LSL, kedua nya mengidap HIV/AIDS. Karena terus terang saja, LSL atau LGBT itu bisa menyebarkan HIV/AIDS," kata Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Belitung Musrani kepada Pos Belitung, Jumat (19/10/2018).

Selain dua orang itu sudah dinyatakan meninggal dunia, kata Musrani, ditahun 2017 ada empat orang yang memiliki penyimpangan LGBT atau LSL meninggal dunia. Satu orang lantaran terkena AIDA dan tiga orang lagi terkena HIV.

"Itu yang terlihat, kalau diluar itu kami belum mengetahui. Kalau yang LSL ini sangat susah terdeteksi, karena tidak terlihat seperti kelompok 'waria'. Mereka belum berani menonjolkan diri secara langsung, paling hanya dikelompok mereka saja," ujarnya.

Musrani mengatakan, khusus untuk di Belitung sepengatahuannya mereka belum bisa menemukan kelompok LSL tersebut. Sejauh ini, mereka baru sebatas pribadi dan kurang dari lima orang yang ingin membuka diri.

"Baru orang - orang tertentu saja yang bisa berkomunikasi dengan mereka, karena mereka ini sangat tertutup. Di RSUD itu juga karena mereka sudah terkena penyakit, dan melakukan konseling," ucapnya.

Mereka, kata dia, akan terus melakukan pencegahan agar tidak muncul LSL atau LGBT baru dikalangan masyarakat. Salah satu cara nya melakukan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya penyimpangan hubungan seks serta bekerjasama dengan instansi terkait.

"Sekaligus kami mensosialisasikan Perda HIV/AIDS, karena sekarang sedang dalam tahap sosialisasi. Sehingga kedepan, mereka tidak ada alasan lagi malu-malu untuk berobat," bebernya. (*)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved