VIDEO

7 Sakan di Pojok Kolong PDAM, 800 Pelanggan PDAM Tidak Dapat Air Bersih

Sekitar tujuh unit sakan berukuran kecil, Selasa (22/10/2018) berada di pinggir kolong Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM)

7 Sakan di Pojok Kolong PDAM, 800 Pelanggan PDAM Tidak Dapat Air Bersih
Pos Belitung/Disa Aryandi
Sakan diduga untuk penambangan timah yang ada di pinggir kolong PDAM di Dusun Air Serkuk, Desa Air Saga, Kecamatan Tanjungpandan, Selasa (22/10). 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sekitar tujuh unit sakan berukuran kecil, Selasa (22/10/2018) berada di pinggir kolong Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) di Dusun Air Serkuk, Desa Air Saga, Kecamatan Sijuk.

Sakan ini tersembunyi di bagian teluk kecil, yang merupakan sumber air baku, dan hutan kecil yang berjarak sekitar lima meter dari jalan aspal.

Selain sakan, ada pula cangkul dan bekas pasir tailing yang begitu banyak di dalam kawasan kolong tersebut. Diduga sumber air baku ini, telah dijadikan oleh pelaku tambang tempat aktivitas pencarian pasir timah. Pasir tailing itu, sebagian masuk ke kolong utama yang berkapasitas Instalasi Pengelolaan Air (IPA) 40 liter perdetik.

Terdapat jalan tikus untuk tiba di lokasi tambang timah tersebut setelah melewati pagar kolong PDAM yang sudah jebol dan berbagai pepohonan berukuran tinggi. Diduga aktivitas penambangan timah di kolong PDAM tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan lebih.

Ini membuat pengelola PDAM sulit untuk mendistribusikan air bersih kepada pelanggan. Ada 800 pelanggan yang didistribusikan air bersih oleh perusahaan plat merah tersebut. Termasuk di dalamnya perhotelan yang ada di Kelurahan Tanjung Pendam.

"Termasuk hotel Maxone dan BW Suite itu pakai sumber air baku ini. Dari pada pelanggan harus mendapatkan distribusi air yang tidak layak, mending kami ambil risiko untuk menyetop pendistribusian sementara ini," kata Direktur PDAM Kabupaten Belitung Erwinta kepada Posbelitung.co, Senin (22/10/2018).

Diduga aktivitas tambang timah tersebut, hanya menggunakan mesin robin alias tambang bencong. Pelaku penambangan melakukan kegiatan tambang di atas pukul 23.00 WIB untuk hari-hari tertentu dan suara pantulan mesin tersebut tidak akan terdengar.

"Apabila berjarak 10 meter baru terdengar, mungkin mereka menggunakan peredam suara. Tapi kalau hari libur kami bekerja, mereka beroperasi sekitar jam tujuh malam sudah mulai. Kami bukan tidak mau melakukan penindakan, tapi itu bukan wewenang kami," ujarnya.

Kegiatan penambangan di kolong PDAM tersebut, memang sudah berulang kali ditemukan. Namun kegiatan tambang itu aktif kembali sejak satu pekan belakang dan kegiatan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Dulu sempat berhenti sekitar 10 hari, tapi muncul lagi. Mereka ini, kalau sudah ada informasi ribut-ribut soal air PDAM pasti berhenti, kalau sudah redah pasti mereka beraktivitas lagi. Dulu juga pernah dipinggir dan terang-terangan lima set mesin TI di kolong ini," ucapnya.

Apabila kegiatan tambang tersebut masih ada, sumber air baku ini akan terus tercemar dan berwarna coklat. Untuk menormalkan kembali, kegiatan tambang itu dilakukan pemberhentian dan air baku ini harus didiamkan sekitar empat hari, agar bisa diolah dan dipergunakan oleh pelanggan.

"Waktu segitu masih bisa kami usahakan pengelolaan, agar bisa di distribusikan. Tapi kalau ingin normal, membutuhkan waktu satu bulan dan harus banyak hujan agar jernih. Sebetulnya kami bukan tidak rugi ini tidak jalan, pelanggan pasti komplain dan pendapatan juga berkurang," bebernya. (*)

Saksikan videonya:

Penulis: Disa Aryandi
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved