Tanaman Obat Tradisional Alami Anti-HIV Ini Ternyata Banyak Terdapat di Indonesia

Berbagai cara dilakukan orang untuk menanggulangi AIDS yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh orang karena infeksi HIV.

Tanaman Obat Tradisional Alami Anti-HIV Ini Ternyata Banyak Terdapat di Indonesia
Daun kaki kuda alias pegagan atau centella asiatica 

Ganggang yang hidup di laut ini mengandung heparin dan dekstran sulfat.

Ternyata juga anti-HIV seperti senyawa sulfonat polisakarida.

Tanaman Trichosanthes kirilowi

Biasa dipakai sebagai obat abortus di Cina, kini di Amerika Serikat dipakai secara tidak resmi sebagai obat AIDS, karena mengandung protein trikosantin.

Tanaman Glycyrrhiza uralensis (sejenis akar manis)

Senyawa glycyrrhizin dari tanaman tersebut, yang biasa dipakai dalam ramuan obat batuk hitam, ternyata bersifat anti-HIV juga.

Pemberian secara oral kepada pasien HIV ternyata bisa menyembuhkan pasien AIDS.

Beberapa jenis tanaman obat tradisional  Indonesia kemudian juga diteliti oleh NCI Amerika Serikat, seperti pinang, belimbing wuluh, pepaya, pare, dan tempuyung yang sudah amat biasa kita kenal sebagai jamu.

Penelitian masih baru dalam taraf pengujian kegiatan ekstrak kasar dari fransi air, dan belum ditentukan dengan pasti, berapa dosis yang direkomendasikan bagi tiap jenis tanaman obat itu.

Tetapi yang pasti ialah, tanaman jamu Indonesia itu dapat dipakai untuk mengobati AIDS, karena sudah terbukti anti-HIV.

Ekstrak air tanaman Indonesia yang aktif anti-HIV in vitro. (Laporan NCI 1986 -1993)

  • Ageratum conyzoides (Babadotan)
  • Amaranthus spinosus (Bayam duri)
  • Amornum rumphii (Galoba jantung)
  • Anthocephalus chinensis (Kelempeyan)
  • Aquilaria microcarpa* (Kayu gaharu)
  • Areca catechu (Pinang)
  • Artemisia gina (Mungis arab)
  • Artemisia vulgaris (Suket ganjahan)
  • Averrhoa bilimbi (Belimbing wuluh)
  • Blumea balsamifera (Sembung)
  • Carica papaya (Pepaya)
  • Centella asiatica (Daun kaki kuda)
  • Chydenanthus excelsus (Besole)
  • Cinnamomum burmani (Kayu manis)
  • Clerodendrum serratum (Sagunggu)
  • Codiaeum variegatum (Puring, puding)
  • Coleus atropurpureus (Jawer kotok)
  • Coriandrum sativum (Ketumbar)
  • Costus speciosus (Pacing, Si tawar)
  • Curcuma heyneana (Temu giring)
  • Dracontomelon dao * (Buwah rau, Koili)
  • Drypetes longifolia (Bumigaya, Batung)
  • Eclipta prostata (Urang-aring)
  • Elaeocarpus stipularis (Pinang pinai)
  • Euonymus javanicus (Kumbang)
  • Foeniculum vulgare (Adas)
  • Garcinia griffithi (Kandis gajah)
  • Gendarusa vulgaris (Gandarusa)
  • Glochidion arborescens (Ramambong)
  • Graptophyllum pictum (Dangora puding)
  • Hemigraphis colorata (Benalu api)
  • Hydrocotyle sibthorpioides (Patikan cina)
  • Indorouchera griffithiana (Akar tanduk)
  • Limnocharis flava (Genjer)
  • Macaranga tribolata (Kayu sepat)
  • Melaleuca leucadendron (Kayu putih)
  • Melastoma affine (Harendong)
  • Meliosma sumatrana (Ki tiwu)
  • Merremia peltata (Daun rambut)
  • Merremia umbellata (Daun bisul)
  • Momordica charantia (Paria, pare)
  • Nephrolepis biserrata (Paku harupat)
  • Notaphoebe malabunga (Medang lasa)
  • Palaquium gutta (Balam)
  • Parameria laevigata (Kayu rapat)
  • Payena acuminata (Mayang lisak)
  • Pogostemon hortensis (Nilam)
  • Pterocarpus indicus (Angsana)
  • Saccharum spontaneum (Tebu salah)
  • Scorodocarpus borneensis (Kayu bawang hutan)
  • Sida rhombifolia (Daun selai)
  • Sonchus arvensis (Tempuyung)
  • Spatholobus ferrugineus (Sambangan)
  • Staurogyne elongata (Godong keji)
  • Vernonia arborea (Sembung gilang)
  • Villebrunea rubescens (Nangsi, jurang)
Editor: Evan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved