Perjuangan Melahirkan Anak Kembarnya, Hana Ditandu Pakai Batang Kayu Hingga Nyebrang Laut

Sambil terbata-bata, Hana menceritakan perjuangannya hingga sampai di Pangkalpinang, demi melahirkan calon anak kembarnya itu

Perjuangan Melahirkan Anak Kembarnya, Hana Ditandu Pakai Batang Kayu Hingga Nyebrang Laut
Bangkapos/irakurniati
Hana terbaring di ruang bougenvile RSIA Muhaya Pangkalpinang didampingi ibunya, Senin (3/12/2018) 

POSBELITUNG.CO - Hana, perempuan berusia 27 tahun terbaring lemas di atas kasur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Muhaya Pangkalpinang, Senin (3/12/2018) sore.

Wajahnya masih tampak pucat dan tangan kanannya dibalut dengan selang infus. Hana merupakan warga Dusun Pulau Nangka, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka tengah, yang memiliki kisah perjuangan demi dapat melahirkan calon anak keduanya.

Hana (26) warga Dusun Pulau Nangka, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah harus di bawah menggunakan sampan untuk bisa mendapatkan proses persalinan anak keduanya, pada Senin (3/12/2018) pagi.
Hana (26) warga Dusun Pulau Nangka, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah harus di bawah menggunakan sampan untuk bisa mendapatkan proses persalinan anak keduanya, pada Senin (3/12/2018) pagi. (Istimewa Ali)

Sambil terbata-bata, Hana menceritakan perjuangannya hingga sampai di Pangkalpinang, demi melahirkan calon anak kembarnya itu. Ibu satu orang anak ini merasakan kesakitan sejak malam hari sebelumnya. Namun ia masih sanggup menahan. Hingga dipagi hari Senin (3/12/2018) sekitar pukul 08.00 WIB, dirinya tak kuasa lagi menahan sakit didalam kandunganannya itu.

Ia pun merintih, tubuhnya lemas, bahkan untuk berdiri pun tidak sanggup. Beruntung jarak antara rumah Hana dan ibunya tidak terlalu jauh. Ibunya pun kerap datang mengunjungu Hana, lantaran kondisinya saat ini sedang mengandung.

"kebetulan pada saat itu ibu datang, lalu dia memanggil kadus (kepala dusun) dan bidan setempat. Karena di pulau tidak ada peralatan yang membantu untuk keluhan persalinan, kecuali bersalin normal dan dalan kondisi sehat-sehat. Jadi saya dibawa oleh suami, bidan, kadus dan keluarga lainnya, untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di kota." tutur Hana ditemani sang ibu, Buna.

Lantaran tidak memiliki kendaraan, Hana terpaksa diboyong menggunakan tandu yang dibuat dari kain dan dililit pada batang kayu. Ia digotong empat orang dari rumahnya, menuju dermaga di tepi pantai Pulau Nangka, kondisi cuaca panas terik pada saat itu, Hana hanya mampu merintih kesakitan. Meskipun sebelumnya, ia telah diberi pil pereda nyeri oleh bidan setempat, yang juga turut mengantarkan Hana menuju Pangkalpinang.

Perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki dan sembari menggotong Hana diatas tandu, ditempuh sekitar 20 menit hingga tiba di dermaga. Hana pun melanjutkan perjalanan agar bisa melakukan persalinan di rumah sakit yang memadai. Ia didampingi keluarganya, berangkat ke dermaga Desa Tanjung pura, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka tengah, yang berjarak sekitar 30 menit, dengan menggunakan sampan atau perahu kecil.

"Sampai di desa Tanjung pura itu sekitar setengah jam. Dari desa itu, kami lanjut lagi naik mobil sekitar satu setengah jam untuk sampai ke Pangkalpinang, itu pun kalau bawa mobilnya ngebut." kata Hana.

"Tadi kami nyewa mobil untuk ke Pangkalpinangnya, tidak pakai ambulance. Karena terlalu panik lihat kondisi saya yang sudah kesakitan, jadi sewa mobil pribadi dengan biaya Rp 250 ribu." lanjutnya.

Dia pun akhirnya tiba di RSIA Muhaya sekitar pukul 12.00 WIB. Perempuan yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga ini, tidak mengetahui apa yang menyebabkan kandungannya mengalami kesakitan hingga membuatnya merintih. Dia mengakui, dua minggu sebelum kejadian ini, ia bersama suami sempat mengontrol kandungannya yang memasuki sembilan bulan ke dokter di rumah sakit yang sama. Sementara ibu Hana, Buna (54), mengatakan anaknya itu tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat lantaran kondisi kehamilannya itu.

"Sakit perih sekali. Rasanya mau buang air, tapi tidak bisa. Tiba-tiba keluar seperti lendir begitu." pungkas Hana.

Disebut Hana, warga Pulau Nangka, khususnya ibu hamil, memang sesekali pergi ke Pangkalpinang untuk mengecek kandungan. Dan merupakan hal yang lumrah menggunakan sampan, namun dalam kondisi ibu hamil yang sehat dan kuat. Biasanya, mereka didampingi bidan setempat.

Saat ini, Hana masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Apakah persalinan akan dilakukan secara normal ataupun caesar. Namun dirinya berharap, dapat melahirkan secara normal, dan calon putri kembarnya itu lahir dengan sehat dan selamat.

Caption. Bangkapos/irakurniati
Hana terbaring di ruang bougenvile RSIA Muhaya Pangkalpinang didampingi ibunya, Senin (3/12/2018)

Area lampiran

Penulis: Ira Kurniati
Editor: khamelia
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved