Founder Rumahbaca Ataplangit Babel Bacakan Pantun di Kepri

Kampoeng Literasi Atap Langit Babel menyelenggarakan Workshop Literasi di Tanjungpinang,Kepri

Founder Rumahbaca Ataplangit Babel Bacakan Pantun di Kepri
DOK RUMAHBACA ATAPLANGIT
Workshop Pendampingan Satgas Gerakan Literasi Sekolah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. 

POSBELITUNG.CO - Founder Rumahbaca Ataplangit Desa Air Mesu Timur Kecamatan Pangkalanbaru Bangka Tengah Provinsi Bangka Belitung, Poni Auri nekat membaca dua pantun saat memberikan sambutan saat Workshop Pendampingan Satgas Gerakan Literasi Sekolah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Workshop Literasi di Kepri ini diselenggarakan Kampoeng Literasi Atap Langit Babel.

"Mohon maaf apabila pantun kami diukur standar Kota Tanjungpinang masih terlalu jauh," kata Poni Auri, Sabtu (5/1/2019).

Hadir dalam acara tersebut Kasubdit Peserta Didik PKLK Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbud RI, R Achmad Yusuf SA, M. Ed, Satgas GLS Kemendikbud RI Dr Yasep Setiakarnawijaya, M.Kes, Kasi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Dr Elmie, M. Pd serta Ketua Satgas GLS SLB Provinsi Kepulauan Riau Kalisni, S. Pd.

Poni Auri mengaku memberanikan diri untuk berpantun di hadapan para peserta karena dirinya mengetahui bahwa Kota Tanjungpinang ini dikenal sebagai 'Kota Gurindam dan Negeri Pantun'. 

Awalnya, mantan guru di Pondok Pesantren Nurul Falah Bangka Tengah ini membaca pantun "Bukanlah talam sembarang talam, tetapi talam berlapis emas, Bukanlah salam sembarang salam, Tetapi salam agama mohon kiranya di balas," kata Poni Auri.

Usai membaca pantun pertama, pria kelahiran Air Mesu, Bangka Belitung, 10 Februari 1985 ini lalu melanjutkan pantun yang kedua "Jika kita berintegrasi, pastilah kita bersatu, terimalah salam hormat kami, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu," ucapnya.

Sementara Kasubdit Peserta Didik PKLK Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbud RI, R Achmad Yusuf saat menyampaikan sambutan sekitar 15 menit separuhnya diisi dengan pantun, di antaranya "Di SLB ada lomba merias tanpa kaca, ada juga lomba merias pojok buku, ayo kita semua rajin membaca, karena membaca dapat menambah ilmu," ucapnya.

Mengakhiri sambutannya, Kasubdit kembali membaca pantun "Ke sekolah memakai dasi,
hari Senin di sekolah ada upacara, ayo kita sukseskan gerakan literasi, agar dalam lomba GLS Kepri menjadi juara," paparnya.

Sebelumnya MC juga menyampaikan beberapa bait pantun disaat kegiatan dimulai dan meminta agar para pembicara nantinya separuh dari sambutannya diisi dengan pantun.
Ini rupanya yang menyebabkan Founder Rumahbaca Ataplangit dan para pembicara harus menyiapkan pantun saat memberikan sambutannya.

Yasep Setiakarnawijaya yang juga Dosen di Universitas Negeri Jakarta yang diundang oleh Atap Langit sebagai pembicara pada kegitan ini pun merasa tidak enak hati juga kalau sebagai tamu disambut pantun, lalu tidak dibalas dengan pantun juga.

"Tanjungpinang di tepi laut, berhias indah si Jembatan Dompak, ketika hati kita saling bertaut
tenggang rasa yang akan tampak," jelasnya.

"Minum kopi di pagi hari, enak ditemani roti bakar, singkong dan ubi mari kita gelorakan literasi, agar tumbuh karakter dan kompetensi," tambahnya. (*/rusaidah)

Penulis: rusaidah
Editor: rusaidah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved