Bercita-cita Jadi Bos Rongsokan, Bocah Pemulung Asal Pangkalpinang Sempat Tolak Tawaran Sekolah

Rahmat, bocah berusia 12 tahun putus sekolah di Pintu Air yang terpaksa bekerja menjadi pemulung untuk menghidupi dan merawat kakeknya

Bercita-cita Jadi Bos Rongsokan, Bocah Pemulung Asal Pangkalpinang Sempat Tolak Tawaran Sekolah
Bangka Pos/ Dwi Ayu Mauleti
Rahmat, Bocah pemulung di Pangkalpinang 

POSBELITUNG.CO  - Rahmat, bocah berusia 12 tahun putus sekolah di Pintu Air yang terpaksa bekerja menjadi pemulung untuk menghidupi dan merawat kakeknya, Arpani, akan kembali disekolahkan.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan TKSK Kecamatan Tamansari Gustina Aromasari mengatakan, Rahmat akan disekolahkan di sekolah paket Kurnia.

Dia mengatakan, Rahmat dan kakeknya Arpani yang tengah sakit, sebelumnya tinggal di Kecamatan Gabek. Keduanya baru sebulan tinggal di Kelurahan Kejaksaan.

Gustina mengatakan, ia bersama Camat Tamansari dan Lurah Kejaksaan juga sudah mendatangi Rahmat dan kakeknya sekutar sebulan lalu. Keduanya juga didata dan diberikan bantuan.

Arpani, kakeknya, juga telah diberikan bantuan berupa kursi roda dari Dinas Sosial Provinsi Babel. Untuk sembako, keduanya mendapatkan bantuan dari panti asuhan di dekat kediaman mereka.

"Saat kami datangi itulah, kami data, termasuk kakeknya. Rahmat ini ikut kakeknya, ibunya sudah nikah lagi di Palembang. Dia ini awalnya ikut ibunya, kemudian tidak terurus, dibawa kakeknya ke Pangkalpinang," tutur Gustina di kantor Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Pangkalpinang, Kamis (7/2/2019).

Rahmat, oleh Gustina dan timnya ditawari agar mau bersekolah. Namun Rahmat awalnya menolak dan malah menyampaikan bahwa ia bercita-cita menjadi bos rongsokan.

Rahmat juga menolak ditampung di panti milik Pemprov Babel. Ia juga tak mau saat ditawari masuk pasantren karena dianggap akan jauh dari kakeknya, Arpani, yang tengah sakit.

"Mau jadi bos rongsokan itu mungkin dia lihat bosnya banyak uang, kami tidak setuju kemudian sampaikan ke kakeknya Rahmat tidak bisa seperti itu, biar bagaimanapun harus sekolah," ujar Gustina.

Gustina kemudian mendatangi sejumlah sekolah seperti sekolah inklusi yakni SD 25 dan 33 Pangkalpinang. Rahmat yang putus sekolah sejak kelas 1 SD dan tidak bisa baca tulis itu tak bisa langsung diterima karena belum tahun ajaran baru.

Halaman
12
Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved