Pakaian Adat Belitung Perpaduan Budaya China dan Melayu

Ini terlihat dari kerah pakaian pria yang menyerupai cheongsam, baju tradisional China. Sedangkan kain sarung

Pakaian Adat Belitung Perpaduan Budaya China dan Melayu
Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari
Budayawan Belitung Fithrorozi saat ditemui posbelitung.co, Kamis (7/2/2019). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pakaian adat Belitung memiliki perpaduan antara budaya China dan Melayu.

Ini terlihat dari kerah pakaian pria yang menyerupai cheongsam, baju tradisional China.

Sedangkan kain sarung menunjukkan kekhasan pakaian Melayu. Hal ini disampaikan Budayawan Belitung Fithrorozi saat ditemui posbelitung.co, Kamis (7/2/2019).

"Bagi laki-laki, pelengkap penutup kepala berupa tanjak atau ikat kepala akan lebih mengentalkan adat Melayu," ujarnya.

Namun biasanya pada acara seremonial seperti upacara adat atau majelis adat, tanjak digantikan dengan penutup kepala berupa songkok resam.

Orang yang menggunakan songkok resaman ini juga identik dikenal sebagai pemuka adat seperti Kik Lebai.

Pada pakaian wanita, digunakan baju seting polos yang cenderung panjang sampai ke paha serta tidak menonjolkan lekukan tubuh.

Ini menunjukkan orang Melayu itu mempertimbangkan kesopanan dalam tata busana.

Selain simbol budaya, pakaian adat juga sebagai simbol agama dari kopiah dan kancing limak yang sering dianggap sebagai penggambaran rukun Islam.

Pakaian adat juga kental dengan simbol alam, misalnya pada kain pucok rebung yang biasa dikenakan wanita.

Lipatan kain pada busana pria dan wanita juga memiliki simbol status seseorang sudah menikah atau belum.(*)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved