Survei HSBC : 9 dari 10 Orang Tak Siap Pensiun, Meskipun Bekerja dan Punya Penghasilan Tetap

Sedangkan 83 persen khawatir akan meningkatnya kebutuhan biaya kesehatan, dan 77 persen khawatir akan kehabisan dana pensiun.

Survei HSBC : 9 dari 10 Orang Tak Siap Pensiun, Meskipun Bekerja dan Punya Penghasilan Tetap
KONTAN/MAIZAL WALFAJRI
Paparan survei HSBC 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA -  PT Bank HSBC Indonesia melakukan survei bertajuk Future of Retirement, Bridging the Gap. Hasil survei yang menyasar 1.000 responden masyarakat Indonesia ini menunjukkan 68 persen responden yang menginginkan masa tua yang nyaman. Namun hanya 30 persen yang telah sadar dan tergerak untuk mulai berinvestasi untuk masa pensiun mereka.

Kesenjangan ini mengakibatkan mayoritas responden survei memiliki kekhawatiran akan mandiri secara finansial saat masa pensiunnya nanti.

Sebanyak 86 persen dari responden khawatir akan dapat hidup dengan nyaman. Sedangkan 83 persen khawatir akan meningkatnya kebutuhan biaya kesehatan, dan 77 persen khawatir akan kehabisan dana pensiun.

“Meski bekerja dan memiliki penghasilan tetap per bulan, sebanyak sembilan dari 10 orang menyatakan kekhawatiran mereka untuk menutup beragam biaya di masa pensiun. Pensiun harus direncanakan dengan matang sedari dini. Sayangnya kesadaran ini biasanya timbul saat kita sudah mendekati masa pensiun,” kata Steven Suryana, Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia di Jakarta, (Selasa (12/2).

Steven menambahkan, di Indonesia masa pensiun saat ini seringkali diasosiasikan dengan waktu untuk bermain dan merawat cucu. Namun survei ini menunjukkan bahwa 2/3 responden usia kerja menyatakan akan lanjut bekerja setelah pensiun.

Terdapat 54 persem dari responden ingin memulai berwirausaha saat pensiun, sedangkan sisanya memilih untuk mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan sebanyak 29 persen, kembali mencari pekerjaan 25 persen, serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah 19 persen.

“Yang juga mengkhawatirkan adalah lebih dari 3/4 responden usia kerja mengharapkan anaknya akan membantu mereka di masa pensiun, sedangkan kenyataannya saat ini hanya kurang dari 1/3 responden usia pensiun menerima bantuan dari anaknya,” lanjut Steven.

Sementara itu, beberapa sumber dana lain yang diharapkan menopang masa pensiun seperti tunjangan dari tempat kerja, atau tabungan akan semakin berkurang seiring dengan bertambah tua usia. 

Steven juga menjelaskan pentingnya untuk kita mem-visualisasikan masa pensiun kelak sejak sekarang. Dengan memiliki visi masa pensiun yang jelas, bersama mitra keuangan yang tepat, persiapan pensiun dapat dilakukan dengan efektif, menggunakan beragam instrumen yang sesuai dengan profil risiko yang kita miliki.

“Kesadaran akan kebutuhan realistis di hari tua dapat memulai percakapan yang penting untuk perencanaan pensiun. Yang pasti, semakin dini kita mempersiapkan diri, semakin bisa kita mewujudkan mimpi menjadi crazy rich retiree di Indonesia,” kata Steven.

Future of Retirement merupakan studi yang dilaksanakan oleh HSBC global terhadap 17.405 orang di 16 negara. Di Indonesia, survei ini direspon oleh 1.050 responden yang terdiri dari mereka yang usia produktif dan pensiun.

Melihat hal ini, Steven masih optimistis bisnis wealth management HSBC di Indonesia dapat tumbuh optimal. Sayangnya Stven tidak merinci target dana kelolaan nasabah tajir yang hendak HSBC bidik sepanjang 2019. (*)

Berita ini telah dipublikasikan di kontan.co.id dengan judul Survei HSBC: Sembilan dari 10 Orang Tidak Siap Pensiun

Tags
Pensiun
Editor: khamelia
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved