Pengelolaan Limbah Medis RSUD Beltim Masih Bergantung Pada Pihak Ketiga

Untuk pengolahan limbah medis kami sudah Ada incinerator, sekarang lagi proses perizinan. Saat ini masih

Pengelolaan Limbah Medis RSUD Beltim Masih Bergantung Pada Pihak Ketiga
Posbelitung/Suharli
Direktur RSUD Belitung Timur, Dr Cahyo. Jumat (15/3/2019) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG --RSUD Kabupaten Belitung Timur (Beltim) masih dalam proses izin pengoprasian Incinerator untuk pengolahan limbah medis yang ada di lingkunagan RSUD Beltim, dari incinenarator dari kementrian lingkungan hidup.

Hal tersebut disampaikan Direktur RSUD Belitung Timur, Dr Cahyo saat ditemui di tuang kerja oleh posbelitung.co, Jumat (15/3/2019).

Menurut Cahyo untuk tahun 2018 lalu penyimpanan dirumah sakit setiap limbah telah disesuaikan dengan jenisnya.

pengolahan limbah medis hingga saat ini masih bergantung kepada pihak ketiga, sedangkan pada tahun 2019 karena RSUD sudah memiliki Incinerator tinggal menunggu ijin pengoprasian saja.

"Untuk pengolahan limbah medis kami sudah Ada incinerator, sekarang lagi proses perizinan. Saat ini masih pakai pihak ketiga untuk proses pengolahan. Karena penanganannya sangat kusus ya (Limbah medis-red), disetiap layanan kesehatan setiap rumah sakit memang wajib memiliki Incinerator," ujar Dr Cahyo.

Menurut Cahyo limbah rumah sakit tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, orang lain, namun juga bagi tenaga medis dan pengelola limbah tersebut.

" limbah Itu kan ada infeksius, bekas darah,sisa operasi, dan juga benda tajam sperti jarum suntik, dan logam-logam yang, kalau tidak di hendel dengan benar bisa berdampak pada lingkungan," ujar Dr Cahyo.

Di RSUD Beltim juga sebelumnya sudah dilakukan uji coba penaganan limbah demgan Incinerator.

Ada pun urutan penanganan limbah medis menurut Dr Cahyo yakni, limbah-limbah medis dikumpulkan dipilah menjadi dua yakni tempat sampah warna kuning dan warna hijau, untuk sampah p3k dimasukan sampah warna kuning, yang disimpan dulu baru di bakar di Incinerator.

"Hasil dari burning (pembakaran) yang berupa abu atau arang dikirim lagi ke pusat, untuk penyimpanan abu tersebut, karena abu tersebut berbahaya juga," jelas Dr Cahyo. (Posbelitung.co/suharli)

Penulis: Suharli
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved