Breaking News:

Opini

Ijazah Palsu Coreng Wajah Pendidikan Indonesia

Ijazah palsu mencoreng wajah pendidikan Indonesia. Pendidikan bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan mudah, melainkan dengan usaha keras dan belajar.

Ijazah Palsu Coreng Wajah Pendidikan Indonesia
google
Ilustrasi foto

Ketika seorang kuliah program S1, s2 maupun S3 dengan jalur yang benar di universitas yang mendapatkan izin dari pemerintah, butuh pengorbanan baik waktu, tenaga maupun materi.

Lamanya waktu studi serta banyaknya tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa membuat ijazah itu, merupakan suatu benda yang sangat berharga.

Jadi jika ada orang yang dengan gampang untuk membeli ijazah itu merupakan tindakan yang tidak etis dan melanggar nilai nilai etika.

Sebuah studi normatif mengenai etika, merupakan penelusuran yang mencoba mencapai kesimpulan tentang hal hal yang baik dan buruk, atau tentang tindakan apa yang benar dan salah, khususnya mengenai jual beli ijazah tersebut.

Jika dipandang dari segi Etika, menurut John Rawls dalam buku Business Ethics: Concepts and Cases karangan Manuel G. Velasquez yang mengusung Keadilan Retributif (Retributif Justice) menyatakan, bahwa hukuman yang diberikan kepada orang yang bersalah haruslah adil.

Jika pembuat/pengedar dan pengguna ijazah palsu terbukti bersalah, maka haruslah dihukum sesuai dengan kejahatan yang telah dilakukannya. Seorang pejabat atau pemimpin yang terbukti menggunakan ijazah palsu dalam menduduki suatu jabatan tertentu, tentu saja hal tersebut melanggar etika, karena telah berlaku egoisme dimana teori ini diusung oleh Rachels.

Egoisme berarti seseorang melakukan apa yang sesungguhnya paling menguntungkan bagi dirinya, atau tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Jadi pelaku pengguna ijazah palsu ini berusaha untuk mendapatkan dengan ijazah abal abal tersebut untuk kepentingannya sendiri.

Sebenarnya apakah sebegitu penting nya ijazah tersebut?. Apakah memiliki ijazah merupakan jaminan orang tersebut pasti bisa kerja?. Menjadi wakil rakyat yang duduk di DPR pun, tidak dipersyaratkan harus sarjana, lulusan SMA pun bisa untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.

Sekarang yang menjadi pertanyaan nya, bagaimana kualitas orang tersebut?. Apakah lebih baik dengan orang yang lulusan sarjana atau malah tambah buruk ?.

Terlepas dari itu semua, banyak juga tokoh dunia yang bisa sangat sukses, walaupun tanpa gelar dan lulusan sarjana, seperti Bill Gates salah satu pendiri raksasa perangkat lunak Microsoft, telah menempati ranking teratas orang terkaya di dunia dia drop out dari Harvard di tahun pertama kuliahnya.

Halaman
123
Editor: Edy Yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved