Penerimaan Peserta Didik Baru

Peraih UN Tertinggi di Negeri Laskar Pelangi Pilih SMPN 2 Tanjungpandan

Total nilai Ujian Nasional (UN) 289.5, membuat Fathiya berhasil masuk dalam penerimaan jalur khusus atau tanpa tes.

Penulis: Dede Suhendar |
Pos Belitung/Dede Suhendar
Fathiya Putri Zahra didampingi ayahnya sat melakukan pendaftaran sekolah di SMPN 2 Tanjungpandan, Kamis (2/7/2015). 

Laporan Wartawan Pos Belitung Dede Suhendar

POSBELITUNG.COM, TANJUNGPANDAN - Fathiya Putri Zahra, siswi peraih nilai UN tertinggi di Kabupaten Belitung akhirnya menjatuhkan pilihan untuk bersekolah di SMP Negeri 2 Tanjungpandan.

Pilihan tersebut merupakan keinginannya sendiri. Pertimbangannya karena mendapat dukungan dari kedua orang tua. Menurut anak sulung pasangan dr Hendra dan dr Pipit Qonitatin ini, mengatakan informasi yang diterima ayahnya SMPN 2 saat ini paling bagus.

"Terus temen-temen dari SD juga banyak yang masuk sini. Memang kemaren sempet mau masuk SMPN 1 biar satu jalur sama Ayah. Tapi setelah dipikir-pikir gak jadi," ujar dara berkaca mata ini.

Total nilai Ujian Nasional (UN) 289.5, membuat Fathiya berhasil masuk dalam penerimaan jalur khusus atau tanpa tes.

Namun perjuangan Fathiya untuk meraih hasil tersebut tidak mudah. Dalam satu hari, ia menghabiskan sekitar empat jam untuk mengulang pelajaran di rumah.

"Biasanya belajar di rumah dari pagi dari jam empat sampai jam lima, terus sore dari jam tiga sampai jam lima disambung malam jam tujuh sampai jam delapan. Belajarnya sih sendiri, karena ayah dan bunda kan sibuk," bebernya sembari tersenyum.

Ia mengaku paling senang dengan pelajaran matematik. Dikarenakan matematik tidak begitu menekankan hafalan dan lebih mengandalkan kreatifitas.

"Karena aku kurang suka yang hafalan. Kalau soal ujian kemaren dibilang susah gak, gampang juga gak. Yang pasti tidak boleh tegang," bebernya.

Sedangkan dr Hendra yang mendampinginya pada saat tahap wawancara mengaku tidak pernah memaksakan keinginan anaknya. Ia memberikan kebebasan dalam memilih sekolah. Ia hanya memberikan masukan untuk mendukung pilihan anaknya.

"Kalau Saya tergantung anaknya. Karena yang akan sekolah kan dia sendiri. Cuman kasih informasi saja, karena SMPN Dua itu banyak ekskulnya jadi bisa mengembangkan potensi dia punya," ujarnya.

Sementara dr Pipit Qonitatin menilai Fathiya memang punya ambisi besar. Dalam artian, ia tidak mau mengalah dengan teman sejawatnya.

Kemudian lanjutnya, kebiasaan belajar memang sudah ia tanamkan semenjak Fathiya masih kecil. Sehingga saat ini, belajar sudah menjadi kebiasaan bagi Fathiya.

"Pertama memang anaknya sudah punya bakat dan saya ajarkan belajar itu setiap hari. Jadi sekarang sudah bisa dilepas sendiri, biar tidak suruh dia sadar kalau sudah waktunya belajar," katanya.

Mendidik anak, menurutnya tidak perlu dengan kekerasan. Justru akan menyebabkan anak depresi dan stres.

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved