Satinah yang Lolos Hukuman Pancung di Arab Saudi Tiba di Semarang

Satinah, tenaga kerja wanita (TKW) yang lolos hukuman pancung di Arab Saudi.

Tayang:
Tribun Jateng/Daniel Ari Purnomo
Satinah tiba di Semarang, Selasa 8 September 2015 

POSBELITUNG.COM, UNGARAN - Suasana yang sebelumnya hening tiba-tiba riuh menyambut kedatangan Satinah, tenaga kerja wanita (TKW) yang lolos hukuman pancung di Arab Saudi.

Sekitar pukul 18.30 WIB, sebuah mobil Innova warna hitam Nopol H 9312 PR memasuki jalan selebar sekitar 2 meter menuju rumah Satinah di RT 02 RW 03 Jalan Kalimaya, Dusun Mruten Wetan, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Selasa (8/9/2015) petang.

Satinah keluar dari mobil dan dipapah untuk duduk di kursi roda. Wanita yang mengenakan kemeja warna hitam itu dikawal petugas untuk melewati puluhan warga yang telah menghadangnya menuju teras rumah.

Keluarga dan para tetangga pun berebut menyalami dan menciumi Satinah, yang telah delapan tahun hidup di penjara Saudi.

Tak pelak, isak tangis pun pecah. Di hadapan warga dan keluarga, Satinah mengucap syukur dan rasa terimakasih kepada seluruh pihak yang selama ini mendoakan serta membantunya, hingga akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

"Saya terimakasih telah diberi semangat, diberi panjang umur, hingga akhirnya bisa kembali ke sini, ke rumah, berkumpul bersama anak dan keluarga. Terimakasih kepada semua pihak dan para tetangga yang mendoakan dan membantu saya selama ini," kata Satinah (42) terbata-bata kepada warga dan awak media.

Seusai penyerahan secara simbolis dari Kementerian Luar Negeri ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah dan Pemkab Semarang yang dihadiri Bupati Mundjirin, Satinah dibawa masuk ke dalam rumah.

Dia didudukkan di sebuah kasur di ruang tamu dan kembali mempersilakan secara bergilir para tetangga untuk bersalaman.

"Terimakasih Pak Bupati, terimakasih semua. Sudah membantu anak saya selama ini. Saya bingung harus bagaimana membalasnya. Hanya doa dan terimakasih atas bantuan selama ini," kata Mbok Kemi (60), ibu kandung Satinah.

Bupati Semarang Mundjirin yang hadir untuk menyambut Satinah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini membantu permasalahan Satinah.

"Kasus yang dialami Satinah semoga yang terakhir. Kami tidak ingin ada kasus sama di kemudian hari. Kami sampaikan selamat datang kepada Satinah yang telah bertemu kembali bersama keluarga. Mudah-mudahan ke depannya bisa beraktivitas kembali. Semoga lekas sembuh atas sakit yang kini sedang dideritanya," ujar Mundjirin.

Kakak kandung Satinah, Paeri Al Feri (44) menyampaikan, selama delapan hari menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati Jakarta, Satinah lebih banyak diminta oleh tim dokter untuk beristirahat total. Ada beberapa kali pemeriksaan terkait sakit yang dideritanya.

Pihak keluarga pun diminta untuk tidak sering menjenguk, hanya memantau dari luar kamar.

"Satinah menempati Kamar Cendrawasih III RS Polri Jakarta. Pesan dokter, jangan sampai lupa minum obat dan dilarang makan makanan pantangan. Misal dilarang makan daging kambing. Dia sejak April 2015 menderita sakit stroke dan kini untuk sementara masih memanfaatkan kursi roda dalam beraktivitas," jelas Paeri.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved