Breaking News:

Kenali, Inilah Ciri-ciri Pesantren yang Ajarkan Radikalisme

Guna mendeteksi keberadaan pesantren radikalisme tersebut adalah dengan melihat kurikulum yang digunakan pesantren tersebut.

Editor: Edy Yusmanto
KOMPAS TV
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di pesantren 

POSBELITUNG.COM, JAKARTA - Keberadaan pesantren yang mengajarkan radikalisme belakangan memunculkan keresahan di masyarakat.
Pesantren tersebut kerap dikaitkan dengan aksi teror di Indonesia.

Guna mendeteksi keberadaan pesantren radikalisme tersebut adalah dengan melihat kurikulum yang digunakan pesantren tersebut.

Kurikulum menjadi basis penting untuk mengukur potensi radikalisme sebuah pesantren.

"Apakah sebatas kurikulum tapi ekspresi tidak muncul, atau kurikulum yang mendorong para santri untuk menjadi pelaku terorisme," ujar Direktur Pusat Studi Pesantren Al Falaq Achmad Ubaidillah dalam pernyataannya, Selasa(9/2/2016).

Selain melihat kurikulumnya kata Ubaidilah indikator pesantren yang mengajarkan radikalisme bisa dilihat dari pemimpin dan para alumninya.

"Semua orang yang konsen dengan perkembangan informasi pasti sudah bisa menilai pesantren mana yang terindikasi radikalisme. Lihat saja apakah pemimpin dan alumninya terlibat aktivitas terorisme atau tidak," katanya.

Ubaidilah pun menyarankan untuk mencegah hal-hal terkait radikalisme dan terorisme yang bersumber dari pesantren harus ada pendekatan yang baik dari pemerintah dan lembaga terkait lainnya.

Sebaiknya dilakukan penyadaran dan pemahaman kepada elemen-elemen yang terindikasi radikalisme di dalam pesatren untuk kembali ke hakekat sejati pesantren yaitu mengajarkan agama Islam yang baik, damai, dan nasionalis.

"Terorisme harus kita tolak. Pertama landasan teologis tidak memberi ruang. Basis kemanusiaan juga tidak membenarkan praktek terorisme karena Islam agama yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang, sesuai Al Quran dan hadits. Islam justru harus jadi garda terdepan membangun kemaslahatan dan kedamaian umat manusia," ujar Ubaidilah.

Pesantren lanjut Ubaidilah, sejatinya adalah lembaga pendidikan yang didirikan para kiai untuk mengajarkan agama Islam yang benar, damai, dan nasionalisme.

Itu telah terbukti dalam sejarah bangsa Indonesia terutama dalam membentuk dan mempertahankan NKRI.

Selain itu, pesantren juga berhasil menjadi bagian utama dalam melakukan koreksi sosial ke masyarakat dengan mengajarkan prinsip penghargaan dan integrasi sosial dan sejenisnya.

Kendati demikian, Ubaidilah mengaku pihaknya belum melakukan riset khusus terkait pesantren yang terindikasi radikalisme.

"Selama ini kami lebih banyak mendorong pesantren untuk selalu hadir bersama-sama masyarakat menyuarakan spirit perdamaian, harmonisasi, dan persatuan. Itu sesuai dengan keinginan para pendiri pesantren dulu yang ingin menjadikan masyarakat sebagai bagian integral. Jadi tidak hanya mengajar santri, tapi terlibat dalam aktivitas sosial di lingkungan pesantren," kata Ubaidilah.

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved