Bedeker Hingga Arakan Jong, Ritual Buang Jong Suku Sawang di Belitung Timur

Irama gendang terdengar saat Suku Sawang memulai ritual Buang Jong

Bedeker Hingga Arakan Jong, Ritual Buang Jong Suku Sawang di Belitung Timur
pos belitung/Yudistira GP
Suasana ritual adat Buang Jong Suku Sawang pada malam pertama dari sejumlah rangkaian yang akan digelar di Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Beltim, Kamis (25/2/2016) malam. 

POSBELITUNG.COM - Irama gendang terdengar ketika berberapa lelaki dewasa, penduduk asli Suku Sawang menabuhnya. Mereka berkumpul di halaman kawasan permukiman RT 04, Dusun Seberang, Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Belitung Timur (Beltim), Kamis (25/2), sekitar pukul 20.00 WIB.

Suara gendang diiringi nyanyian serta lantunan syair dari ketua adat dan juga para sesepuh adat Suku Sawang atau istilah lainnya Suku Laut. Para sesepuh duduk bersama mengenakan baju dan ikatan kepala serba putih, beralaskan terpal biru mengelilingi dupa yang sudah dibakar. Ritual itu merupakan tanda dimulainya hari pertama prosesi adat Buang Jong tahun ini.

"Malam ini (kemarin, red), Suku Sawang melangsungkan hari pertama prosesi ritual adat Buang Jong. Ritual ini dilaksanakan selama tiga hari, sampai malam puncak di malam Minggu nanti (malam ini, red), yaitu malam puncak yang bertepatan dengan digelarnya festival tradisi Buang Jong Suku Sawang Tahun 2016," kata Panitia Festival Buang Jong Rendi (25) kepada Pos Belitung kemarin malam.

Menurut Rendi, usai upacara ritual dari para sesepuh, ada tarian adat yang bernama bedeker. Tarian ini menurut kepercayaan mereka, orang yang menjadi penarinya dalam posisi keadaan tidak sadar yang berpetualang ke alam dimensi lain. Serta diyakini akan bertemu dengan leluhur dan orang-orang tua mereka yang sudah meninggal.

Selang waktu dibahas tentang tarian tersebut, tiba-tiba pemimpin ritual (ketua adat) berdiri dari posisi tempat duduknya, dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan mata terpejam. Ia berjalan lurus kearah depan sekitar 10 meter dari tempat duduknya.

Ketua adat terus berjalan, setapak demi setapak langkah kakinya perlahan lahan menuju kearah depan. Para sesepuh lainya tetap berada di dekatnya, menjaga posisi ketua adat agar tidak jatuh dan sampai di tempat yang diinginkan.

Ketua adat mulai menari. Ia terus menggerakan kakinya mengikuti irama gendang. Ia mengenakan celana panjang cokelat, baju putih, dan songkok, di bagian dagunya ditutupi kain putih seperti memakai kerudung.

"Tadi itu ketua adat membuka awal ritual tarian, istilahnya dalam kepercayaan mereka membuka alam dimensi lain untuk meminta izin kepada leluhurnya dalam pelaksanaan ritual tersebut. Hal ini juga dilaksanakan dengan tujuan meminta agar meminta keselamatan dari mulai darat sampai laut," beber Rendi.

Ia menyampaikan, usai ketua adat melangsungkan ritualnya, baru pihak penari dari para pemuda suku sawang yang melanjutkannya. Mereka semua dibuat dalam kodisi tidak sadarkan diri.

Lima orang pemuda dewasa membuat lingkaran di tengah lapangan yang tidak jauh di tempat ketua adat menari. Mata mereka pun ditutup menggunakan kain putih.

Halaman
12
Editor: tidakada024
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved