OPINI
Sisi Lain Potensi Kekayaan Alam Pulau Belitung
Belitung, sebuah nama pulau kecil di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa dibandingkan pulau-pulau lainnya.
POSBELITUNG.COM - Belitung, sebuah nama pulau kecil di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa dibandingkan pulau-pulau lainnya.
Kekayaan sumberdaya lautnya; ikan, udang, cumi, kepiting, teripang dan lainnya. Keindahan pantai-pantainya; lautnya yang biru, pasir putih, sebaran granit raksasa serta semilir sejuk anginnya saat ini sudah tidak asing lagi bagi dunia luar.
Jika kita berkunjung ke Belitung, suguhan pemandangan pertama yang akrab di kanan kiri jalan adalah padang, semak belukar, kebun kelapa sawit, bekas tambang timah, dan sedikit hutan.
Tanahnya kering berpasir saat kemarau, becek kehitaman dan menggenang saat musim penghujan hanya pohon gelam dengan kulit batangnya mengelupas tegak di dalam genangan.
Saat kecil, kita diajarkan lagu-lagu daerah Bellitung di sekolah, salah satunya yaitu lagu Kayu Kayan ciptaan Abdul Hadi yang liriknya menyebutkan jenis-jenis tumbuhan di Belitung, kurang lebih berikut bagian liriknya;
Jemang samak pelawan kayu marak de tunu
Mendirman mensirak kayu banyak berabu
Nyato seruk pelempang kayu urang beramu
Medang lubang bedare kayu ubat desedu
Bakau nyire teruntum kayu tumbo de amau
Selain Kayu Kayan, lagu lain yang menyebutkan kekayaan buah-buahan di Belitung yaitu lagu Bua Utan, kira-kira liriknya seperti ini;
Kawan kawan banyak ragam bua bang utan
Bua kayu bua akar bua la rutan
Sepat kelat masam manis kuang de makan
Cube dengar benar-benar kan kusebutkan
Rukam kiras jemang rangkas keremuntingan
Kandis melak tungking kijang bua sisilan
kelinsutan kelincakan kelebantuian
usa ragu usa takut silakan makan...
Semoga generasi muda saat ini juga mengingat jelas dan belajar mengenai lagu-lagu ini. Mungkin pada umumnya saat duduk di bangku SD atau di SMP kita hanya sekedar menyanyikan lagu ini, tanpa mengerti maksud dari lagu tersebut dan jenis-jenis maupun wujud dari nama-nama buah dan kekayaan alam daerah kita.
Begitu juga dengan saya yang dulu penuh dengan pertanyaan alias orang awam, keterbatasan informasi dan ilmu akan tumbuh-tumbuhan di hutan kita yang ternyata memiliki manfaat dan bernilai langka.
Dimanakan tumbuh-tumbuhan itu berada? Jika nama-nama mereka dapat menjadi inspirasi sebuah lagu, hal ini menunjukkan betapa akrabnya tumbuhan itu dengan masyarakat. Manusia dan alam hidup berdampingan, saat masyarakat pesisir akrab dengan laut dan ombak.
Maka masyarakat yang di darat, akrab dengan komunitas hutan di dekatnya. Nama-nama tumbuhan yang ada di lagu tersebut hanya segelintir dari ratusan spesies tumbuhan yang tumbuh di hutan Belitung.

Hutan Kerangas
Hutan yang tumbuh di tanah Belitung bukan seperti hutan yang ada di sebagian Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua dan lainnya. Hutan yang tumbuh hampir di seluruh daratan Belitung adalah Hutan Kerangas. Setiap daerah yang termasuk jalur sabuk timah dunia ini pada umumnya terdapat hutan kerangas.
Namun porsi luasannya dari masing-masing wilayah tergantung dari ketinggian wilayah (elevasi), suhu, iklim yang mempengaruhi kadar pasir kuarsanya sebagai ciri khas hutan ini. Di Malaysia dan Brunei Hutan Kerangas ini tersebar terbatas dan tidak merata.
Pulau Belitung terbantuk oleh batuan induk granitik (yang bersifat asam) yang dalam proses pelapukannya akan tertransport menjadi pasir kuarsa karena batuan beku granit didoninasi oleh kandungan mineral kuarsa. Pasir kuarsa ini terendapkan,berbutir lepas, bersifat asam dan miskin hara.
Hutan Kerangas, diklasifikasikan berdasarkan faktor Edafisnya, dengan pengertian hutan yang tumbuh di atas tanah 'Podsol', pasir kuarsa, miskin hara dan dengan ciri tanaman yang kerdil.
Jika dibandingkan dengan hutan lain, Hutan Kerangas memiliki keanekaragaman vegetasi yang cukup tinggi, meskipun dengan potensi kepadatan tingkat pohon rendah.
Hutan Kerangas didominasi oleh tingkat pancang. Hal ini disebabkan oleh miskinnya unsur hara di dalam tanah, sehingga menghambat pertumbuhan pohon di dalam hutan. Setiap spesies akan berkompetisi untuk memperoleh unsur hara.

Kerangas Kuarsa
Kondisi lantai hutan yag berpasir kuarsa juga menunjukkan bahwa Hutan Kerangas sangat rentan terhadap gangguan. Adanya gangguan di Hutan Kerangas yang menyebabkan terbukanya tutupan hutan dan kerusakan pada lantai hutan, maka akan sulit untuk dikembalikan menjadi hutan kembali.
Tercucinya unsur hara di Hutan Kerangas dan hilangnya lempung dalam tanah hanya akan menyisakan pasir kuarsa yang sangat rendah dalam menyimpan hara.
Jika masih ada sebagian orang yang masih asing dengan kata Kerangas. Kata Kerangas berasal dari kata suku "Dayak Iban" yang berarti suatu lahan yg tidak dapat ditanami padi. Di masyarakat Belitung sendiri ada yang berpendapat itu berasal dari kata Ngeranggas, karena keringnya dan tandus daerah ini sehingga pohon-pohon pun meranggas.
Sifat tanahnya yang asam membuat hutan kerangas ini tidak dapat ditanam lagi setelah dibakar, ditebang, apalagi dijadikan area pertambangan. Tidak hanya itu, bencana alam akibat terganggunya ekosistem di hutan ini akibat pengrusakan manusia, akan terjadi dan pasti membawa efek besar bagi kehidupan manusia.
Hutan Kerangas (heath forest/padang vegetation ) masih sangat jarang diteliti dan sedikit sekali buku yang membahas tentang hutan ini. Mungkin karena hutan yang sangat miskin unsur hara, berpenampilan tidak menarik ini kurang diminati, tidak komersil serta keberadaannya di dunia sangat sedikit.
Padahal, kekhasan hutan ini sangat berbeda serta potensi yang ada didalam hutan ini sangat banyak, apalagi manfaat Hutan Kerangas sangat berpengaruh dalam siklus air tanah. Oleh karena itulah hutan ini sangat langka dan memiliki kekhasan.
Di Belitung terutama Belitung Timur, memiliki hutan ini. Namun, keberadaannya tidak pernah dianggap, dipandang sebagai pohon-pohon kering dan terkesan tak bermanfaat, yang dengan mudahnya ditebang bahkan dibakar untuk kepentingan komersil.
Pada tahun 2008-2009 kami melakukan penelitian mengenai aplikasi Geologi dalam hubungan rehabilitasi lahan di bekas penambangan timah di Belitung Timur yang merupakan studi skripsi yang hasilnya disumbangkan ke pemerintah.
Penelitian ini meliputi analisa Geologi, hidrogeologi (air tanah dan air permukaan), analisa tanah antara kawasan yang masih alami dan di lokasi bekas tambang dan juga sosio-demografi.
Hasil penelitian berupa peta rekomendasi satuan kesesuaian lahan kawasan yaitu yang menggambarkan potensi dan kendala dari kawasan yang dinyatakan berdasarkan data fisik, lapangan dan data-data sekunder (Santi.D.P, 2009).

cratoxylon formosum
Pengamatan di lapangan serta hutan kerangas yang kami lihat membuat banyak pertanyaan akan potensi dan karakter yang ada di dalamnya.
Tidak hanya itu, yang lebih penting dari keberadaan Hutan Kerangas ini yaitu, di hutan ini banyak terdapat species langka yang hidup didalamnya dan spesies tumbuhan obat juga berlimpah diekosistem hutan kerangas ini.
Oleh karena itu pada tahun 2012, dari penelitian dasar ini kami melakukan gabungan antara analisa geologi dengan penelitian khusus Hutan Kerangas dimana fokus riset mengenai keanekaragamana species tumbuhan di hutan ini.
Dari hasil riset yang telah dilakukan, Hutan kerangas Belitung Timur disusun oleh 224 spesies tumbuhan dan 72 famili, dimana 101 diantaranya berkhasiat sebagai obat (Oktavia 2012). Jumlah spesies tumbuhan obat yang teridentifikasi sebanyak 101 spesies.
Tidak hanya itu, dari riset ini diketahui bahwa di Hutan Kerangas Belitung Timur terdapat species yang dilindungi yaitu Kantong semar (Nepenthes). Keanekaragaman tumbuhan obat di hutan kerangas sangat melimpah, terdiri dari famili Rubiaceae, Myrtaceae, Fabaceae, Euphorbiaceae, Cluaiaceae dan Apocynaceae (Oktavia, 2012).
Sangat menakjubkan, hutan yang dari jauh hanya berupa pohon-pohon kurus, kerdil, kering diatas pasir kuarsa putih, ternyata menyimpan banyak keanekaragaman tumbuhan obat dan species langka. Karena di dunia keberadaannya sangatlah sedikit, kekhasan ini jangan sampai hanya menjadi cerita anak cucu. Dan yang harus diingat, tidak semua Hutan Kerangas memiliki keanekaragaman timbuhan obat yang berlimpah.
Begitu banyak hal yang bisa dikembangkan dalam pemanfaatan tumbuhan obat ini. Di tambah lagi dengan keberadaan obat-obat herbal semakin ditinggalkan. Padahal , hutan di depan mata banyak menyediakan bahkan gratis. Hutan yang langka apabila dijaga dan ditata dengan baik,akan menjadi objek wisata yang menarik dan tentu karena kelangkaannya yang tidak terdapat diseluruh dunia.

Hutan Kerangas
Pada tahun 2014 kami melanjutkan riset mengenai Hutan Kerangas yang semakin membuat kami penasaran yaitu mengenai analisis karakteristik tanah di Hutan Kerangas yang kami bandingkan dengan lahan bekas pertambangan timah.
Perbedaan kondisi geologi di setiap lokasi sangat mempengaruhi kondisi fisik dan kimia tanah serta vegetasi penyusun ekosistem yang ada disana. Oleh sebab itu kami melakukan kajian dengan perbandingan Hutan Kerangas sekunder tua dengan daerah bekas penambangan timah yang berumur100 tahun.
Fokus dari penelitian ini yaitu menghasilkan rekomendasi upaya memperbaiki fisik tanah yang otomatis mempengaruhi perubahan kimia tanah, serta teknik apa yang bisa diaplikasikan untuk konservasi dalam kasus yang setiap hari kita lihat ini (Oktavia, 2014).
Kami menyimpulkan kolaborasi antara Geowisata dan Ekowisata merupakan aset berharga yang tidak hanya memiliki nilai jual tetepi juga estetika alami untuk memikat dunia luar dan bisa dikembangkan sebagai objek pendidikan, riset social-demografi dan sejarah langka untuk anak cucu.(*)
Penulis :

Santi Dwi Pratiwi, ST.MRSc
Kandidat PhD of Petroleum Geology&Paleoceanography, Akita University-Jepang

Dina Oktavia, S.Hut.MSi
Kandidat PhD of Forest Ecology , The Northeast Forestry University-China
Contact person : sdp_geologist@yahoo.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/hutan-kerangas_20160310_120202.jpg)