Breaking News:

Lipsus Cagar Budaya

Cagar Budaya Pulau Belitung Belum Terkelola Baik

Adanya sampa itu, bekas benteng peninggalan Belanda tersebut menjadi tempat nongkrong remaja yang diduga mabuk-mabukan.

Pos Belitung/Wahyu Kurniawan
Seorang warga sedang melintas di depan cagar budaya Kian Sien eks SMK Yaperbel 1 Jalan Dewi Sartika Tanjungpandan, Selasa (29/3/2016) sore. 

"Untuk sertifikasi tenaga ahli itu kita difasilitasi oleh Kemendikbud, termasuk biaya akomodasinya nanti. Jadi walaupun tahun ini tidak dianggarkan di APBD, kita tetap bisa kirim tenaga lokal untuk ikut sertifikasi itu," kata Alwan.

Dalam tahun ini juga Dikbud akan melaksanakan kegiatan 'studi pelestarian dalam bentuk spasial'. Kegiatan ini sederhananya merupakan penjabaran dari kebijakan pemerintah one map one policy.

Studi pelestarian itu nanti akan menghasilkan peta dasar beserta potensi situs dan arah pengembangannya. Menurut Alwan, hasil studi tersebut bisa digunakan oleh pemda sebagai refrensi pengembangan cagar budaya.

Beltim sama

Kondisi serupa juga terjadi di Belitung Timur (Beltim). Penetapan benda cagar budaya masih terkendala beberapa faktor, di antaranya ketersediaan tenaga ahli, misalnya arkeolog. Proses penetapan juga melalui beberapa tahap, mulai dari pendaftaran, registrasi kajian, penilaian, rekomendasi, dan sebagainya.

"Bisa saja ditetapkan yang telah ada, tapi secara hukum tidak sah, bertentangan, karena dalam perundang undangan, salah satu syaratnya harus ada tim ahli," kata staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Beltim, Adi.

Ia menambahkan, tidak sembarang bangunan atau tempat bisa dikatakan sebagai cagar budaya. Harus ada bendanya terlebih dulu, nilai, ciri khas, dan sebagainya.

"Dalam undang undang minimal umurnya 50 tahun. Namun harus didukung juga suatu cagar budaya tersebut mengandung pengetahuannya di dalamnya, kebudayaan, edukasi, bahkan religi," ucap Adi.

Menurutnya, calon cagar budaya di Beltim sudah ada, antara lain, rumah dinas bupati, Balok Lama di Dendang, Kelenteng Dewi Kwan Im di Burung Mandi, serta SMK Stania.

"Itu di antaranya, masih ada yang lainnya," ucap Adi

Menurut Adi proses pembugaran atau pelestarian cagar budaya juga masih terkendala, yakni ketersediaan tenaga ahli. Selama ini pihaknya masih menginduk ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

"Yang jelas kalau di daerah lain harus ada tim. Kemudian baru diserahkan ke pemerintah daerah atau dinas terkait, karena tidak mudah. Bisa jadi nanti malah merusak atau menghilangkan keaslian dari bangunan tersebut," ujar Adi. (kk1/n1/n7)


//
Dikirim oleh Pos Belitung pada 30 Maret 2016
Editor: Edy Yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved