Ternyata Jenazah Siyono Terduga Teroris Tak Pernah Diotopsi

Tim Dokter Muhammadiyah memastikan jasad Siyono belum pernah sama sekali diautopsi.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (kedua kiri), Ketua tim dokter forensik dr Gatot Suharto SpF (kiri) serta dua Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kedua kanan) dan Hafid Abbas menunjukkan foto autopsi jenazah terduga teroris asal Klaten, Siyono di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (11/4/2016). Hasil autopsi diantaranya yaitu sebelumnya belum pernah dilakukan autopsi terhadap jenazah dan kematian Siyono disebabkan benda tumpul yang dibenturkan ke bagian rongga dada hingga membuat tulang dada patah ke arah jantung. 

POSBELITUNG.COM, BANTUL - Tim Dokter Muhammadiyah memastikan jasad Siyono belum pernah sama sekali diautopsi.

Hal ini sekaligus membantah keterangan Polri yang menyebutkan pihaknya sudah mengautopsi penyebab kematian Siyono.

"Berdasarkan autopsi yang telah disampaikan di Komnas HAM Jakarta, penyebab kematian ada pada dada. Bukan pada bagian kepala seperti yang disampaikan Mabes Polri," ujar anggota Tim Kemanusiaan Keluarga Siyono, Dr Trisno Raharjo di Kantor Pusham UII, Banguntapan, Bantul, Rabu (13/4/2016).

Tim menganggap hasil pemeriksaan polisi terkait penyebab meninggalnya Siyono tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Dari surat keterangan kematian serta serah terima jenazah kepada keluarga tidak menjelaskan apa pun tentang autopsi, karena kenyataannya hanya sebatas pemeriksaan luar.

"Saya sempat menanyakan kepada dokter-dokter ahli forensik, apakah kalau begini termasuk autopsi, jawabannya bukan autopsi dan di bawah standar," tambah dia.

Menurut dia, jika kepolisian hanya melakukan pemeriksaan luar dan di bawah standar, maka penyebab kematian Siyono tidak bisa dijelaskan.

Selain itu, kesimpulan dari pemeriksaan yang tidak sesuai standar juga tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Hanya menscan dari luar lalu disimpulkan. Hasil scannya dikirimkan ke keluarga sebagai penyebab kematian. Menurut dokter forensik, hasil itu tidak bisa dipertanggungjawabkan," beber dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, ada perbedaan hasil autopsi Tim Dokter Muhamadiyah dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi.

"Ada hal yang tidak transparan dalam keterangan Polri, mereka mengatakan silakan kalau mau melakukan autopsi ulang, ternyata tim dokter forensik mengatakan ini adalah autopsi pertama. Jadi siapa yang membohongi Kapolri?" tanya dia.

Nanyak juga kejanggalan lain seolah-olah ada fakta yang disembunyikan kepolisian seperti status Siyono yang sebelumnya disebut sebagai terduga teroris namun dalam surat terkahir yang diterima keluarga statusnya sudah tersangka.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved