Breaking News:

Ahok Ngotot Reklamasi Jalan Terus, Contohkan Korea Selatan Dalam Hal Reklamasi

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bersikeras agar reklamasi di Teluk Jakarta tetap berjalan.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Kapal nelayan bersandar di sekitar proyek reklamasi Pulau G, Muara Angke, Jakarta, Minggu (17/4/2016). Pulau G merupakan satu diantara rencana reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta yang kini pengerjaannya dihentikan sementara oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan terkait izin reklamasi. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

POSBELITUNG.COM, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bersikeras agar reklamasi di Teluk Jakarta tetap berjalan. Alasannya, reklamasi hal yang lumrah terjadi di dunia.

Ahok menyatakan reklamasi hal yang mutlak dilakukan di beberapa negara. Reklamasi Teluk Jakarta tetap harus dilangsungkan.

Dia mencontoh manfaat dari reklamasi di Korea Selatan. Di negeri ginseng tersebut, reklamasi dilakukan demi meningkatkan lahan untuk bercocok tanam.

"Korea Selatan kenapa pengin reklmasi? Karena dia ingin menambah (lahan) untuk pertanian," ujar Ahok di Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (19/4/2016).

Dengan mengenyam pendidikan sebagai insinyur geologi yang memperhatikan analisis teknis rinci mengenai material bumi dan menilai risiko bencana alam secara geologi, Ahok menyebut reklamasi adalah suatu keniscayaan di setiap negara.

"Saya bukan penentang reklamasi. Reklamasi itu sudah keniscayaan, saya orang geologi loh. Kalau kamu pelajari mazhab ini, dunia kalau tidak ada reklamasi, jutaan orang bisa kelaparan. Itu (reklamasi) yang dilakukan di Saemangeum, Korea Selatan," ucap dia.

Reklamasi di Saemangeum, Korea Selatan sempat mengalami pertentangan, terutama oleh aktivis lingkungan di sana.

Namun, kini proyek reklamasi terbesar di dunia tersebut menjadi kebanggaan rakyat Korea Selatan, karena ramah lingkungan dan dikerjakan oleh insinyur-insinyur lokal.

Reklamasi seperti di Saemangeum yang ingin ditiru Ahok di Teluk Jakarta.

"Di korea selatan lebih susah. Karena dia menghadapi laut yang pasang surut bisa beda lima meter. Kita kan masih landai, aluvial," tutupnya.

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved