Breaking News:

Menakjubkan! Alquran Raksasa Jadi Destinasi Wisata di Palembang

Sebanyak 315 papan yang menghabiskan kayu hingga 40 kubik Alquran Raksasa bisa diselesaikan, Total dananya tidak kurang dari Rp 1,2 miliar

SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA
Objek wisata religi, Alquran Raksasa di Gandus, Palembang, Sumatera Selatan. 

Bahkan wakil rakyat di DPR RI ini menjadi salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap Masjid Agung Palembang.
Suatu hari, Opat sapaan akrabnya, baru saja terlelap tidur setelah selesai mengukir kaligrafi ornamen bagian pintu Masjid Agung Palembang. Dalam tidurnya ia bermimpi. Mimpi tersebut mengisyaratkan dirinya untuk membuat alquran terbesar di dunia.
Dengan berbagai pertimbangan, disertai niat dan tekat yang bulat, ia pun mewujudkan mimpinya itu dengan mengawalinya dari surat Alfatiha.

Lalu kemudian satu keping potongan Alquraan tersebut dipamerkannya di masjid tersebut, dengan harapan ada donatur yang bersedia untuk mendukung niatnya.
"Dari isyarat melalui mimpi itulah Pak Sofwatillah, mulai mengagas pembuatan Alquran Raksasa ini," ujar Sarkoni, salah seorang pengelola museum Alquraan Raksasa itu, Minggu (17/5/2015).

Gagasan pembuatan Alquran itu tercetus pada tahun 2002 silam, setelah Opat merampungkan pemasangan kaligrafi pintu dan ornamen Masjid Agung Palembang. Dari sana juga inspirasi membuat mushaf Alquran dengan ornamen khas Palembang.
Satu keping mushaf Alquraan surat Alfatiha ditunjukkan kepada salah seorang toko masyarakat Palembang Marzkui Ali yang pernah menjadi Ketua DPR RI. Tentu saja dengan harapan Marzuki Ali mengajak dermawan dan relasinya mensuport pembuatan alquran tersebut.

Tepat pada 1 Muharram 1423 atau 15 Maret 2002 Alquran tersebut dipamerkan di bazar pada peringatan Tahun Baru Islam. Namun resmi diluncurkan pada 14 Mei 2009 di Masjid Agung Palembang.
Proses pembuatannya dilakukan di kediaman Opat, yakni di Jalan Pangeran Sido Ing Lautan, Lorong Budiman, No 1.009, Kelurahaan 35 Ilir, Palembang.

"Kenapa kayu tembesu? Karena kayu jenis ini banyak ditemukan di kawasan Sumsel. Selain itu kayu jenis ini kuat," kata Sarkoni.
Namun pembuatan Alquran Raksasa ini bukan tanpa kendala. Target awal penyelesaiannya yang ditargetkan empat tahun, molor hingga tujuh tahun. Karena terkendala dana dan bahan baku tembesu.
"Awalnya harga tembesu hanya berkisar Rp2 juta per kubik berlahan naik Rp 7 juta bahkan Rp 10 juta," katanya.

Namun berkat aliran dana donatur, pembuatan Alquran bisa dilanjutkan. Dalam pembuatan sendiri Alquran tersebut,melibatkan sebanyak 35 orang. Lima orang bertugas sebagai pengukir, selebihnya sebagai pemotong dan sebagainya.
Proses pembuatannya juga tidak mudah. Sebelum diukir di atas papan, ayat Alquran terlebih dahulu di tulis di atas kertas karton. Lalu tulisan ini dijiplak ke dalam kertas minyak.

Setelah semua ayat tertulis, tim koreksi memeriksa tulisan tersebut. Jika sudah tulisannya sudah benar maka tim pemahat dipersilahkan untuk memahat di atas papan.

Sebanyak 315 papan yang menghabiskan kayu hingga 40 kubik Alquran Raksasa bisa diselesaikan. Total dana yang dihabiskan tidak kurang dari Rp 1,2 miliar.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved