Berharap Untung Dari Arisan Online, Malah Terlilit Hutang Hingga Diancam
"La (sudah) lapor ke SPKT Polres, tapi katanya tidak ada undang-undang, mau dikenakan pasal apa, jadi kita juga bingung, tapi kami merasa terancam.
POSBELITUNG.COM, BANGKA - Menjanjikan keuntungan besar malah jadi terlilit utang setelah mengikuti arisan online, seperti dialami NR (43).
Bermodal Rp 15 juta, ibu empat anak itu kini terjerat utang hingga ratusan juta. Hidupnya pun tak tenang karena terus mendapat ancaman.
NR kini menyesali keikutsertaannya dalam arisan online yang marak di jejaring media sosial, diantaranya Facebook.
"Bejerak (kapok) seumur idup ni lah yang pertama dan terakhir kali main arisan. Kesel ati, hidup dak tenang agik (lagi), didatengin orang ke rumah sampai ribut-ribut, diancam lewat HP nek (mau) dibunuh, padahal ku la berusaha cicil dengan kemampuan ku, pasti ku bayar cuma dak bisa sekaligus," kata NR, warga Bangka Belitung, saat ditemui Bangka Pos pada Senin (16/5/2016).
NR mengaku pernah meminta perlindungan dan melaporkan peristiwa yang dialaminya ke polisi. Dinilai kurang memiliki bukti dan ketidakjelasan perjanjian, dia dan beberapa peserta arisan online diarahkan untuk mengumpulkan bukti.
"La (sudah) lapor ke SPKT Polres, tapi katanya tidak ada undang-undang, mau dikenakan pasal apa, jadi kita juga bingung, tapi kami merasa terancam. Untuk lunasi (utang) saya sudah jual emas 165 gram, jual motor, dak de (tidak ada) lagi aset yang bisa dijual, rumah juga ngontrak," ujarnya.
Serupa diungkapkan dua peserta arisan online lainnya, TR (28) dan G (23). Kedua perempuan itu mengaku hidupnya tidak tenang karena terus-terusan didatangi member lain.
Tidak hanya di rumah, member yang menagih pembayaran juga datang ke tempat kerja. Ancaman menjadi hal yang sering dialami keduanya belakangan ini.
Ketiga perempuan itu ikut arisan online melalui cara yang hampir sama. Awalnya mereka tertarik janji keuntungan yang cukup besar. Keyakinan bergabung semakin besar setelah melihat kondisi grup arisan.
"Awalnya liat postingan di FJBB lalu dipelajari, karena kebanyakan yang posting maka dibuatlah grup forum arisan Babel, saya mulai ikutan itu Februari akhir dengan sistem menurun. Kalau dikumpul-kumpulin modal pribadi sekitar Rp 15 jutaan," kata NR.
(Baca : Awas Terjebak Dari Modus Arisan Online)
Dia mengaku saat ini jika ditotal secara keseluruhan ia harus membayarkan tagihan senilai Rp 250 juta kepada peserta arisan lainnya yang jumlahnya kurang lebih 50 orang.
NR yang ikut bermain di 200 lebih kloter dengan 20 owner tidak menyangka dirinya akan menghadapi ancaman dan menutupi uang yang tidak dienyamnya itu.
"Awalnya saya hanya main di sistem menurun, belum ada duet-duetan. Kalau menurun kan main untung di bagian belakang, cuma saya gak main di satu kloter aja banyak ada Rp 1 juta, ada yang Rp 300 ribu tergantung kloternya, keasikan makin ikut banyak kloter, uangnya yang awalnya untuk buka warung nasi saya alihkan kesitu semua," ujarnya.
"Sebenarnya kalau ini diteruskan tidak akan kolaps, pertama kan ada yang menyerah lalu dibully dan dikata-kata sama salah satu owner bilang gak boleh berhenti gak boleh nyerah dibully juga sama member yang lain, itulah yang mulai bikin kami ketakutan kalau saya pribadi setelah liat postingan itu mau berjuang sampai habis-habisan lah," terangnya.
Putar uang dan judi
Menurut NR, arisan online lebih pada pemutaran uang dan perjudian, karena yang main di setiap kloter itu kebanyakan orang-orang yang sama, sehingga jika ada yang nyerah maka akan mempengaruhi yang lainnya, pasalnya mereka bermain di berbagai kloter ini untuk menutupi pembayaran pada kloter-kloter lain.
"Ya kayak gali lobang tutup lobang, orang yang mau main sistem duet itu biasnya main di sistem menurun, mereka ambil risiko no 1 di sistem duet itu untuk nutupin bayaran yang di menurun, kalau kena tarikan di menurun dipakai inves untuk jadi no dua di sistem duet, begitulah terus, karena setiap member itu ada Japo (Jatuh Tempo), yang main juga orang-orang itu lah kalau ada yang baru paling 10 orang," bebernya.
NR menyebutkan dirinya pernah jatuh temponya mencapai Rp 70 juta dalam satu harinya, karena ada tarikan pada kloter lainnya ia masih bisa menutupi dari itu.
Ia menceritakan dirinya mulai kolaps pada 19 april karena tidak ada lagi owner yang membuka dengan nominal yang besar sehingga ia tidak mampu lagi menutupi jatuh tempo yang harus dibayaranya pada member.
"Kalau yang owner di Babel ni kurang lebih 25 orang, ku pernah untuk dua kloter jadi owner satunya lah selesai satu lagi belum, tapi owner yang tengah ngetop ni CE, saat kami hampi kolaps dak bisa bayar japo owner-owner ini gak ada lagi bukan dengan nominal yang besar, jadi dak ketutup untuk bayar yang lainnya," terangnya.
TR, peserta arisan online lainnya terlilit tagihan dari member lain senilai Rp 175 juta. Perempuan yang bekerja di sebuah klinik kesehatan itu mengaku kerap kali didatangi member yang lain ke lokasi kerjanya dan diancam akan diadukan kepada kedua orang tuanya.
"Beberapa member tu datang ke tempat begawe ku, ngamuk-ngamuk padahal pas jam tu dak de ku, dipanggil atasan dan tegur juga ku, seharusnya member juga bepikir kalau ku dipecat gimana mau bayar uang mereka, ini ku diancam lewat HP akan diculik, disamperin terus ke rumah," kata TR.
Ingin investasi
Berstatus belum berkeluarga, tujuan TR ikut arisan online adalah investasi. Namun karena keasyikan dengan sistem duet membuat ia bermain hampir 150 kloter arisan online dengan nominal yang beragam.
"Ku banyak main di duet cuma akhir-akhir ni karena japo ku banyak ku booked no satu, biar bisa nutupin bayaran di yang lain. Karena dak de lagi buka yang besar mulai kelimpungan ku untuk bayar japo," ujarnya.
TR menyebutkan dirinya hampir dua bulan mulai ikut bermain arisan online dengan berbagai owner, ia menyebutkan modal pribadi yang ia gunakan senilai Rp 10 juta namun ia tidak menyangka dengan modal tersebut membuat ia malah berutang ratusan juta.
(Baca : Istri Pejabat Bangka Belitung pun Ikut Arisan Online)
Dirinya telah menandatangi beberapa kwitansi terkait tagihan yang diminta oleh member lain, namun ia tidak bisa melunasi hal tersebut dalam waktu singkat.
Ia bahkan mengaku mulai tidak nyaman dengan kehidupannya yang terus mendapat ancaman yang berpotensi menghilangkan karirnya.
"Untuk tarikan yang belum bayar, ku dak nekan-nekan orang, karena ku tau bagaimana rasa e ditekan, ada yang bahkan bilang mau datang ke orang tua ku, kalau ada yang nemuin orang tua dak akan ku bayar sepeserpun uangnya," terangnya.
Jadi tidak harmonis
Satu lagi yang harus terjerat utang ratusan juta adalah G (23). Perempuan yang sudah berkeluarga itu berutang sekitar Rp 90 juta. G mengaku arisan online membuat hubungan keluarganya tidak harmonis. Dia bahkan sedang 'perang dingin' dengan suaminya akibat aktivitas itu.
"Tinggal di rumah mertua, orang sering datang kerumah untuk mintain tagihan ini, otomatis jadi dak seger sama mertua, suamiku yang dak tau jadi ikut-ikutan dibawa, padahal ku la mulai nyicil, sekarang aja perang dingin sama suami," ceritanya.
G sebenarnya sudah lama berniat untuk berhenti main arisan online, namun karena melihat postingan yang menyerah dan dihujat banyak orang ia memilih untuk meneruskan agar tidak mendapat perlakuan yang sama.
"Terpaksa sebener e nerusin karena mau berenti takut dibully di medsos, dipasang-pasang foto dibilang dak bertanggungjawab, jadi ku ikutin bai maunya sampe mana, kalau dikumpul-kumpul adelah 30 juta modal ku," bebernya.
Menurut G, ia mulai merasa risih ketika berbagai ancaman datang yang membuat dirinya takut dan mulai mencicil tagihannya. Tekanan yang datang tidak hanya dari member melainkan juga owner jika berhenti.
"Karena takut jadi ku tandatangai kwitansi dan perjanjian itu, mulai ku cicil la hampr 40 jutaan, ku sebenarnya masih banyak tarikan tapi pas nagih mereka beralasan berkaitan dengan kloter lain, karena ku ngerasa tertekan ditagih, ku pun dak mau melakukan hal yang sama," tandasnya. (tim)
Sandra Dewi: Sudah Saatnya Aku Menikah https://t.co/W6eQWCE7yl pic.twitter.com/zgIi3JgM4o
— Pos Belitung (@PosBel) 18 Mei 2016
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/arisan-online_20160518_105256.jpg)