Laskar Pelangi Terancam

Kini ancaman nyata yang dihadapi Laskar Pelangi bukan lagi buaya. Namun kapitalisme yang makin menjauhkan objek wisata terebut dari anasir edukatif.

Laskar Pelangi Terancam - replika-sd-laskar-pelangi_20160519_082826.jpg
POS BELITUNG/YUDHISTIRA GATRA
Wisatawan mengunjungi Replika SD Laskar Pelangi di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
Laskar Pelangi Terancam - rumah-keong_20160519_083210.jpg
POS BELITUNG/JARIYANTO
Rumah-rumah keong terbuat dari anyaman rotan di Dermaga Kirana, menjadi objek berfoto dan bersantai wisatawan.
Laskar Pelangi Terancam - dermaga-kirana_20160519_084556.jpg
POS BELITUNG/JARIYANTO
Muda mudi menghabiskan waktunya di Dermaga Kirana.

POSBELITUNG.COM, BELITUNG TIMUR - Gudang penimbunan di tepi sungai di kawasan Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), masih berdiri kokoh. Bahkan cat dinding dan kusennya terlihat diperbarui menggunakan paduan warna putih-biru senada warna pada logo perusahaan PT Timah.

Tidak terlihat kesibukan bongkar-muat seperti umumnya gudang-gudang lain. Kalau pun sudah tidak difungsikan lagi, sudah barang tentu gudang itu tidak akan terawat seperti saat ini.

Bangunan peninggalan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda itu merana dan terkesan dilupakan.

Padahal di bangunan tua itu, mayoritas masyarakat Gantung menggantungkan hidupnya selama beberapa dekade sebagai buruh pabrik PT Timah yang dulunya bernama PN Timah.

Sementara itu, dua kilometer dari lokasi gudang, datang bergelombang para pelancong dari berbagai penjuru.

Mereka tanpa memedulikan terik matahari yang membakar kulit ditaburi serbuk putih residu timah yang beterbangan tertiup angin.

Aba-aba pemandu wisata tenggelam oleh riuh para pelancong yang berebut foto di depan bangunan sekolah dasar.

Padahal, bangunan yang sudah reyot pada beberapa bagian, bahkan dinding sampingnya pun disanggah dengan batang pohon itu, hanyalah sebuah replika yang siapa saja bisa membuatnya.

Sekelompok pelancong berpakaian necis silih berganti memasuki bangunan persegi panjang beratap seng, berdinding sirap, dan beralaskan tanah bercampur residu timah.

"Ayo anak-anak, kita mulai pelajaran hari ini," kata seorang pelancong memeragakan diri sebagai guru kelas di antara pelancong lainnya yang sibuk berswafoto atau "selfie", Selasa (18/5/2016).

Halaman
1234
Editor: tidakada024
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved