Breaking News:

Sensasi Wisata Misteri, Menelisik Jejak Penampakan Noni Belanda di Bangunan Tua Kotabaru Yogyakarta

Dahulu kawasan itu jadi tempat tinggal petinggi Belanda yang ada di Yogyakarta ketika masa penjajahan.

Ilustrasi 

Komunikasi masih terus dilanjutkan, penampakannya itu lebih kurang tinggi 185 sentimeter, ia menggunakan pakaian rapi, seperti pakaian dinas khas penjajah Belanda di masa lampau.

Kumisnya lebat, wajahnya pucat, tangan kanan dan di bagian dadanya seperti ada bekas luka tembakan sehingga dia seperti merintih kesakitan. "Dia juga sempat mengungkapkan 'apa kamu bisa menolongku?" kata Shinta.

Kotabaru setelah Belanda menyerah kemudian menjadi basecame tentara Jepang, pertempuran antara pribumi dan Jepang pernah terjadi, hingga penamaan Jalan Abu Bakar Ali, tak lepas dari kisah pejuang yang gugur.

Shinta menghentikan komunikasi dan mencoba berkomunikasi dengan Anjar dan Toro, keduanya duduk termenung sambil sesekali melihat ke arah bangunan. Sepakat, gedung itu pernah menjadi tempat tinggal seorang yang diduga pejabat Belanda.

Tim ASKG mengungkapkan meski bisa berkomunikasi dengan mahkluk gaib jangan seeratus persen percaya dengan apa yang sampaikan. "Kita hanya meyakini mereka ada," katanya Anjar.

Sayang tak ada lagi yang bisa dikorek dari karena keterbatasan waktu, kilas balik singkat itu menguatkan catatan sejarah bahwa kawasan Kotabaru punya cerita dan andil selama perkembangan Kota Yogyakarta.

Bangunan museum Sandi misalnya, pada masa Agresi Militer Belanda, kantor Sandi Nasional yang berada di Kotabaru menjadi salah satu sasaran serangan. 

Penataan Kawasan itu tergolong rapi dibandingkan sejumlah pemukiman di wilayah Yogyakarta, konsep City Garden, tak ada banyak gang-gang di daerah itu. Kawasan yang dibangun Belanda dengan konsep Eropa.

Penulusuran Tribun Jogja dari data sejarah, Kotabaru pada tahun 1920 memang dikembangkan menjadi pemukiman seiring perkembangan industri gula di Yogyakarta. Pejabat Belanda banyak tinggal di daerah tersebut dan berkembang menjadi Nieuwe Wijk atau Kota Baru.

Beberapa sumber menyebutkan, pejabat Belanda waktu itu meminta izin kepada Sultan Hamengkubuwono VII agar diizinkan untuk membangun kawasan pemukiman khusus, wilayah itulah yang dipilih berada di sebelah timur Kali Code.

Waktu itu lahan dipilih sebab di pinggiran sehingga bisa diperluas, faktor lain fasilitas transportasi seperti Stasiun kereta api dan berada tak jauh dari pusat Malioboro, untuk memudahkan akses pada 1923 dibangun sebuah jembatan baru yang kini dikenal sebagai Jembatan Kewek disebutkan dalam catatan Leushuis Emile.

Fakta sejarah, Kotabaru menjadi pusat peninggalan Eropa di Yogyakarta, seperti bangunan SMA 3 Yogyakarta, Museum Sandi, Gardu Electrische Centrale van de Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij akrab ditelinga dengan sebutan Gardu ANIEM, dan rumah rumah Belanda yang kemudian ditinggal pasca kemerdekaan Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved