Breaking News:

Ini Kenangan Habibie Saat Dipanggil Soeharto Pulang ke Indonesia

Habibie mengenang saat dirinya dipanggil Presiden ke-2 RI Soeharto. Saat itu, ia pulang ke tanah air dari Jerman tempatnya menempuh pendidikan.

TRIBUNNEWS.COM/JEPRIMA
Presiden Republik Indonesia ke-3, BJ Habibie saat dibantu menuruni tangga seusai memberikan pidato politinya pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/1/2016). BJ Habibie hadir selaku senior partai Golkar dan juga memberikan pidato politiknya.Tribunnews/Jeprima 

POSBELITUNG.COM - Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar BJ Habibie mengenang saat dirinya dipanggil Presiden ke-2 RI Soeharto. Saat itu, ia pulang ke tanah air dari Jerman tempatnya menempuh pendidikan.

Kenangan itu ia ceritakan kepada kader Golkar saat menjadi pembicara di Rapimnas Golkar, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (27/7/2016).

"Saya dipanggil pulang oleh Pak Harto untuk membangun Indonesia. Persisnya 28 Januari 1974 hari Senin, jam 8 malam di Cendana," kata Habibie.

Habibie diterima Soeharto di kediaman pribadinya. Saat itu, Soeharto meminta Habibie untuk mempersiapkan Indonesia menuju era tinggal landas. Ia sempat mempertanyakan keinginan Soeharto itu.

Sebab, saat itu Habibie berusia 38 tahun sehingga merasa masih muda untuk diberi tanggungjawab besar. "Saya bilang masih ada yang lebih senior," kata Presiden ke-3 RI itu.

Habibie sempat menolak permintaan Soeharto. Ia ingin berkonsentrasi membuat pesawat terbang. "Saya disuruh buat industri strategis. Kata Pak Harto, Rudy (panggilan Habibie) kamu boleh buat apa saja di bumi Indonesia tapi tidak buat revolusi," katanya.

Pada tahun 1978, Habibie menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Golkar. Sedangkan Soeharto menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Habibie menjabat posisi tersebut selama 22 tahun.

Saat peralihan kekuasaan, Habibie merasa mendapatkan cek kosong. Pada tahun 1998, ia lalu memutuskan untuk menggelar Munaslub Golkar di Hotel Indonesia. Munaslub akhirnya digelar pada tanggal 9-11 Juli 1998.

"Saya ubah Golkar sebagai Golongan Karya menjadi Partai Golkar. Karena apa, dalam demokrasi tidak bisa hanya satu atau dua partai, tidak bisa top down tapi bottom up," ujarnya

Penulis: Ferdinand Waskita

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved