Kalian Pernah Dengar Istilah Sarjana Foto Kopi? Ternyata Ini Salah Satu Penyebabnya

anak-anak masih sangat mudah mengakses situs-situs porno di internet.sekitar 25.000 orang anak mengakses situs porno di internet setiap hari.

tribun timur/muhammad abdiwan
Ilustrasi 

POSBELITUNG.COM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yembise menyesalkan anak-anak masih sangat mudah mengakses situs-situs porno di internet.

Padahal hal tersebut dinilai berbahaya bagi perkembangan anak ke depan dan memicu aksi kekerasan seksual maupun prostitusi.

Dari data yang diperoleh Yohana menyebutkan, sekitar 25.000 orang anak mengakses situs porno di internet setiap hari.

Sebagian besar anak mengakses situs tersebut melalui telepon seluler (ponsel).

"Saya mendapat data bahwa sekitar 25.000 image anak muncul di situs porno setiap hari. Ini menjadi perhatian kami," kata Yohana di Pendopo Pengabdian, Kota Magelang, Jawa Tengah, Kamis (15/9/2016).

Yohana mengatakan, saat ini pihaknya telah menyiapkan peraturan menteri (permen) untuk mengontrol penggunaan ponsel pada anak-anak.

Peraturan tersebut antara lain mengatur batasan usia dan waktu penggunaan ponsel. Ia pun tidak menganjurkan anak-anak membawa ponsel ke sekolah.

“Tidak perlulah anak-anak bawa ponsel di sekolah. Kalaupun bawa, jangan sampai dibawa sampai ke kelas, karena akan mengganggu belajar mengajar. Sebaiknya, usia anak-anak bermain mainan selain ponsel saja,” kata dia.

Menurut Yohana, penggunaan ponsel pada anak-anak berdampak buruk pada perkembangan mereka ke depan, terutama daya kritis otak dan sosialnya.

"Anak hanya akan ikut-ikutan saja. Hal ini juga menyebabkan banyak sarjana 'foto kopi',” tandas Menteri kelahiran Manokwari, Papua ini.

Selain itu, penggunaan ponsel sejak dini juga dapat memicu perbuatan pelecehan seksual anak, maraknya kasus prostitusi online hingga kasus perdagangan anak.

"Itu merupakan dampak negatif dan sangat kami khawatirkan. Belum lagi dampak radiasi ponsel terhadap umur manusia. Berdasar eksperimen di Australia, bagi pengguna ponsel berumur lebih pendek dibanding yang tidak,” terangnya.

Yohana menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama serta Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam upaya pembatasan akses konten dewasa pada anak.

Ia pun berharap kepada pada orangtua dan masyarakat untuk aktif mengawasi anak-anak demi keselamatan mereka.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Choirul Muna, menilai, ponsel memang sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak, terutama usia sekolah dasar (SD).

Sebab, anak-anak usia tersebut belum banyak mengerti tentang dampak negatif atau positifnya.

Peran orangtua dan guru sangat penting dalam hal kontrol penggunaan ponsel tersebut.

“Sebenarnya, penggunaan ponsel itu tergantung niatnya. Untuk anak-anak, saya harap ada pengertian dari orangtua atau guru bahwa telepon genggam hanya boleh digunakan untuk hal-hal positif saja,” ujar Muna yang turut mendampingi kunjungan kerja Menteri Yohana di Kota Magelang.

Penulis : Kontributor Magelang, Ika Fitriana

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved