ARSIP

Suara-suara Mereka Semakin Langka, 2 Bahasa di Juru Seberang Ini Terancam Punah

semakin hari Bahasa Laut Suku Sawang hampir jarang digunakan oleh para generasi muda. Bahkan cucu-cucu Saniati tidak lagi menggunakan bahasa tersebut

Suara-suara Mereka Semakin Langka, 2 Bahasa di Juru Seberang Ini Terancam Punah
Pos Belitung/Wahyu Kurniawan
Kek Awang Sesepuh Suku Sawang Juru Seberang 

Musa Mustafa, sesepuh Orang Juru dan tokoh masyarakat Desa Juru Seberang. Pos Belitung/Wahyu Kurniawan

Sepintas, Bahasa Orang Juru terdengar hampir sama dengan Bahasa Laut. Namun setelah didengar dengan seksama, kedua bahasa itu sesungguhnya memang berbeda.

Kondisi ini membuat kebanyakan orang sering salah mengenali Orang Juru dengan Orang Laut Suku Sawang. Padahal, keduanya merupakan dua kelompok masyarakat yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula.

Pada masa orang tua Musa dulu, Bahasa Juru masih sering digunakan di lingkungan keluarga dan sesama Orang Juru. Namun belakangan, bahasa itu sudah ditinggalkan dan nyaris tidak terdengar lagi di Desa Juru Seberang.

“Tidak ada lagi yang tahu, kemungkinan tidak sampai 10 orang yang bisa Bahasa Juru, mungkin setelah saya meninggal, kerabat dan beberapa orang tua di atas kami sudah meninggal, habislah bahasa itu, bahasa kami ini mungkin hanya bisa dimengerti, tapi tidak ada lagi yang menggunakannya,” kata Musa kepada Pos Belitung, Kamis (9/1) sore.

Banyak faktor yang menyebabkan Bahasa Juru semakin ditinggalkan generasinya sendiri. Perpindahan penduduk, perkawinan campuran, dan pengaruh masa lalu.

Menurut Musa, masa lalu Orang Juru dipenuhi dengan ancaman. Dari cerita turun temurun, nenek moyang mereka dulu mengembara ke lautan atas perintah Punggawa Johor untuk mencari ‘sesuatu’ yang dibutuhkan dalam prosesi perkawinan Putri Raja.

Orang Juru ini tidak diperkenankan pulang jika ‘sesuatu’ tersebut tidak bisa ditemukan. Ancamanannya tidak main-main, siapa yang pulang tanpa membawa hasil maka mereka akan dibunuh.

Gagal menunaikan tugas, akhirnya membuat Orang Juru memilih menetap di Belitung. Mereka sebisa mungkin menutup-nutupi keberadaannya di Belitung agar tidak ketahuan oleh Johor.

Dengan sikap seperti itu, Musa mengatakan citra Orang Juru menjadi buruk di mata sebagian penduduk Kota Tanjungpandan. Tak jarang ada selentingan, anak-anak orang kota di larang bergaul dengan anak-anak Orang Juru lantaran mereka disebut sebagai orang buangan.

Halaman
1234
Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved