ARSIP

Suara-suara Mereka Semakin Langka, 2 Bahasa di Juru Seberang Ini Terancam Punah

semakin hari Bahasa Laut Suku Sawang hampir jarang digunakan oleh para generasi muda. Bahkan cucu-cucu Saniati tidak lagi menggunakan bahasa tersebut

Suara-suara Mereka Semakin Langka, 2 Bahasa di Juru Seberang Ini Terancam Punah
Pos Belitung/Wahyu Kurniawan
Kek Awang Sesepuh Suku Sawang Juru Seberang 

Citra itu membuat generasi di era Musa terkadang merasa malu menggunakan Bahasa Juru. Namun belakangan, Musa menyadari mereka dulu seharusnya tidak perlu merasa malu menggunakan bahasa tersebut.

“Orang-orang tua kami dulu tetap pakai Bahasa Juru walau di Kota, tapi kami tidak, sekarang baru tahu, kalau bahasa itu sebenrnya adalah bagian dari kebudayaan dan perlu kita jaga,” kata Musa.

Generasi tua Orang Juru di depan rumahnya di Desa Juru Seberang. Pos Belitung/Wahyu Kurniawan

Generasi mud Orang Juru di Desa Juru Seberang. Pos Belitung/Wahyu Kurniawan

Penelantaran Bahasa

National Geographic Indonesia Edisi Juli 2012 melansir penduduk bumi yang 7000 miliar menggunakan sekitar 7000 bahasa, jika dibagi rata setiap bahasa setidaknya memiliki sejuta penutur.

Namun kenyataannya, 78 persen populasi dunia menggunakan 85 bahasa terbesar. Bahasa Inggris digunakan 328 juta orang sebagai bahasa utama, dan Mandarin 845 juta.

Ketika pergantian abad nanti, menurut ahli bahasa, hampir setengah dari bahasa di dunia saat ini mungkin punah. Lebih dari 1000 yang dinyatakan kritis atau sangat genting.

Ancaman kepunahan bahasa perlu mendapat perhatian. Sebab, kepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban manusia secara keseluruhan.

Menurut penelitian, di Indonesia ada 169 bahasa etnis/daerah yang terancam punah. Hal ini yang kemudian menjadi fokus dalam seminar “Pengembangan dan perlindungan bahasa, kebudayaan etnik minoritas untuk penguatan bangsa,” Kamis (15/12/2011) di LIPI Jakarta.

Dalam seminar itu disebutkan ada empat sebab kepunahan bahasa etnis. Pertama, para penuturnya berfikir tentang dirinya sebagai inferior secara sosial.

Kedua, keterikatan pada masa lalu, ketiga sisi tradisional, dan terakhir secara ekonomi ekonomi kehidupannya stagnan.

“Keempat sebab ini disebut oleh sejumlah linguis sebagai proses ‘penelantaran bahasa’,” kata Drs.Abdul Rachman Patji dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI.

Di luar itu, ada faktor urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Urbanisasi berpengaruh karena jika dua orang dari daerah pindah ke kota besar atau ibukota, maka dalam berinteraksi dengan etnis lain bahasa etnisnya cendrung ditinggalkan.

“Penyebab utama kepunahan bahasa pun karena para orang tua tidak lagi mengajarkan kepada anak-anaknya bahasa ibu mereka dan mereka juga tidak secara aktif menggunakannya di rumah atau di dalam berbagai ranah komunikasi,” kata Abdul

Secara lebih luas, menurut Abdul, faktor-faktor yang mempercepat kepunahan bahasa juga datang dari kebijakan pemerintah dan penggunaan bahasa dalam pendidikan serta tekanan bahasa dominan dalam suatu masyarakat multi bahasa yang berdampingan.(*)

Perlu Pendokumentasian

Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa, Badan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Sugiyono memberikan perhatian sejak lama pada ancaman kepunahan bahasa daera. Hal itu ia ungkapkan dalam artikelnya yang dimuat di website Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, 19/3/2013

Menurut dia, khazanah bahasa dan sastra di Indonesia sangat beragam, tapi sebagian besar dari keberagaman itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Beberapa bahasa memang masih tergolong dalam posisi aman, tetapi tidak sedikit bahasa yang dalam posisi terancam, hampir punah, atau bahkan telah punah.

Dasar hukum yang melandasi kebijakan penanganan bahasa dan sastra daerah telah ditetapkan, baik dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang nomor 24 tahun 2009. Keduanya mencerminkan kemauan politik pemerintah yang nyata, tetapi realisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra daerah belum optimal.

Dalam rangka optimalisasi, beberapa provinsi telah melahirkan perda, demikian juga beberapa kementrian. Akan tetapi, optimalisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa daerah belum dilakukan dalam batas-batas yang seharusnya.

Menurut UNESCO, seperti yang tertuang dalam Atlas of the World’s Language in Danger of Disappearing, di Indonesia terdapat lebih dari 640 bahasa daerah (2001:40). Dari jumlah tersebut terdapat kurang lebih 154 bahasa yang harus diperhatikan, yaitu sekitar 139 bahasa terancam punah dan 15 bahasa yang benar-benar telah mati. Bahasa yang telah punah berada di Maluku (11 bahasa), Papua Barat, Kepulauan Halmahera, Sulawesi, serta Sumatera (masing-masing 1 bahasa).

Upaya pengembangan, pembinaan, dan pelestarian bahasa dilakukan terhadap obyek wisata dan sastra berdasarkan kondisi atau vitalitasnya. Pada 2002 dan 2003, UNESCO dengan bantuan kelompok linguis internasional menetapkan kerangka untuk menentukan vitalitas (kemampuan untuk bertahan) bahasa untuk membantu pemerintah membuat kebijakan penanganan bahasa di negaranya.

Kelompok itu menetapkan Sembilan criteria untuk mengukur vitalitas bahasa. Antara lain, jumlah penutur, proporsi penutur dalam populasi total, ketersediaan bahan ajar, respons bahasa terhadap media baru, tipe dan kualitas dokumentasi, sikap bahasa dan kebijakan pemerintah dan institusi, peralihan ranah penggunaan bahasa, sikap angggota komunitas terhadap bahasanya, serta transmisi antar generasi.

Berdasarkan kriteria itu, vitalitas bahasa digolongkan menjadi enam kelompok.
Pertama, bahasa yang punah (extinct languages) yakni bahasa tanpa penutur lagi. Kedua, bahasa yang hampir punah (nearly extinct languages), yakni bahasa dengan sebanyak-banyaknya sepuluh penutur yang semuanya generasi tua.

Ketiga, bahasa yang sangat terancam (seriously endangered languages) yakni bahasa dengan jumlah penutur yang masih banyak, tetapi anak-anak mereka sudah tidak menggunakan bahasa itu.

Keempat, bahasa yang terancam (endangered languages) yakni bahasa dengan penutur anak-anak, tapi cendrung menurun.Kelima, bahasa yang potensial terancam (potentially endangered languages) yakni bahasa dengan banyak penutur anak-anak tetapi bahasa itu tidak memiliki status resmi atau yang prestisius.

Dan keenam, bahasa yang tidak terancam (not endangered languages) yakni bahasa yang memiliki transmisi ke generasi baru yang sangat bagus.

Bahasa di Indonesia mempunyai jumlah penutur yang sangat beragam. Vitalitas bahasa di Indonesia menyebar dari status yang paling aman hingga yang benar-benar punah.

Di antara bahasa daerah di Indonesia terdapat tiga bahasa yang jumlah penuturnya di atas 10 juta jiwa, yakni Bahasa Jawa, Sunda, dan bahasa Madura.

Penanganan bahasa daerah diklasifikasikan berdasarkan pengelompokan vitalitas bahasa tersebut. Pengembangan dan pembinaan dilakukan terhadap bahasa yang masih dalam status tidak terancam dan bahasa yang mempunyai potensi terancam.

Bahasa dalam vitalitas kedua itu masih dapat direvitalisasi. Dengan pengembangan bahasa itu, kita akan mempunyai korpus yang memadai untuk membahasakan apa saja, mempunyai akselerasi yang bagus terhadap dunia pendidikan dan perkembangan iptek, serta dapat mengantisipasi munculnya media baru.

Pembinaan dilakukan agar bahasa itu mempunyai transmisi antargenerasi yang baik, baik transmisi melalui dunia pendidikan, maupun transmisi melalui interaksi dalam ranah rumah tangga. Selain itu upaya pengembangan dan perlindungan juga dilakukan dengan memantapkan status bahasa, mengoptimalkan dokumentasi, serta menumbuhkan sikap positif penuturnya.

Perlindungan terhadap bahasa sekurang-kurangnya dilakukan dua tingkat yaitu tingkat dokumentasi dan tingkat revitalisasi. Perlindungan bahasa di tingkat dokumentasi akan dilakukan pada bahasa yang sudah tidak ada harapan untuk digunakan kembali oleh masyarakatnya.

Bahasa yang dalam keadaan hampir punah dan bahasa yang sangat terancam hanya bisa dilindungi dengan mendokumentasikan bahasa itu, sebelum bahasa itu benar-benar punah. Dokumentasi itu penting untuk menyiapkan bahan kajian jika suatu saat diperlukan.(KK1)

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved