Liputan Khusus Terasi
Udang Rebon Bahan Baku Terasi Semakin Langka
Ini dipengaruhi beberapa hal, di antaranya penggunaan alat tangkap, sifat udang yang bergantung pada musim, serta adanya pencemaran.
POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Sejak beberapa tahun belakang, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Pulau Belitung yang memanfaatkan bahan baku udang rebon kekurangan pasokan.
Ini dipengaruhi beberapa hal, di antaranya penggunaan alat tangkap, sifat udang yang bergantung pada musim, serta adanya pencemaran.
"Sekarang bahannya (udang) sudah agak sulit, kalau dapat cuma beberapa kilo saja. Kami tidak beli di luar, langsung kami turun ke laut mengambil udang itu (udang rebon, red)," ucap Ani Hasan (68), pelaku UMKM produk olahan udang rebon menjadi terasi di Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung ditemui Pos Belitung, Sabtu (1/10) lalu.
Membuat terasi, telah dilakukan keluarga Ani sejak turun temurun. Ia merupakan generasi keempat yang mengelola usaha tersebut. Saat ini, ia mengaku mulai sulit memenuhi kebutuhan pasar.
"Karena bahan ini (udang rebon) yang sudah agak sulit. Tidak seperti dulu lagi," katanya.
Selain Ani, udang rebon juga menjadi tumpuan hidup nelayan Kampung Mangguru, Desa Cendil, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) bernama Ashadi (56). Hasil tangkapannya tidak dijual dalam bentuk udang segar, tetapi diolah menjadi terasi. Menurutnya, hasil tangkapan melaut tidak menentu, berkisar tiga kilogram atau bahkan bisa mencapai 50 kilogram udang rebon basah per hari.
Sadi mengaku pernah mendapatkan udang rebon hingga delapan karung ketika melaut bersama rekannya. Namun melimpahnya tangkapan itu sudah berlangsung lama.
Ia barharap laut jangan sampai dirusak, karena udang rebon bukan hanya berkurang, tetapi bisa hilang.
"Sebab, udang merupakan jenis makhluk napas kecil, sehingga tidak heran menjadi sensitif terhadap perubahan alam," kata Sadi.
Nelayan lainnya Mardi (63), yang juga menggandeng Sadi sebagai partnernya ketika melaut, menjelaskan, musim udang rebon hanya sembilan bulan, dimulai dari bulan Maret hingga pertengahan November. Memasuki musim barat, pertengahan November hingga bulan Februari, udang rebon menghilang.
"Bulan ini (Oktober) gik (masih) musim, tapi dak ade. Dak tau ngape, kite dak tahu masalah laut," kata lelaki yang menjabat dukun laut ini.
Menurut Kik Mardi berkurangnya udang rebon diduga akibat limbah industri yang mencemari Sungai Buding. Lima tahun lalu, banyak udang rebon yang berkembang biak di sungai tersebut, terutama saat terjadi panas seminggu. Namun kini udang‑udang rebon lari karena limbah.
"Itulah kenyatannya. Kondisi ini sudah berlangsung lima tahun, puluhan tahun sebelumnya biasa saja. Kalo memang musim jarang tidak ada," ucapnya.
Udang rebon memiliki nama ilmiah Acetes indicus, adapula yang menyebutnya Acetes japanicus. Disebut udang rebon karena ukurannya yang kecil, yakni 1-3 sentimeter (cm).
Secara fisik, bentuk udang ini sama dengan udang pada umumnya, tetapi ada ciri khusus, yaitu memiliki garis kemerahan di ruas tubuhnya. Menurut Akbar, dkk (2013), udang rebon merupakan jenis udang berukuran kecil yang hidup di perairan pantai dangkal dan berlumpur serta memiliki sifat fototaktis positif, yaitu tingkah laku yang tertarik mendekati sumber cahaya.
Dibanding udang lainnya, dari segi harga, udang rebon lebih murah. Karena itu, guna meningkatkan nilai jualnya, udang rebon dapat diolah menjadi berbagai produk pangan seperti abon, kerupuk udang, terasi, dan ebi. (n3/o4/inggritmemo.blogspot.co.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/udang-rebon_20161011_113846.jpg)