Breaking News:

Bawa Limbah Sisa Peleburan Timah di Bangka, Dua Sopir Truk Ditahan Polisi

Tin slag yang mengandung mineral ikutan dan radioaktif tersebut, rencananya hendak dibawa ke Jakarta dengan menggunakan kapal ferry penyeberangan.

Dokumentasi
Tin slag yang diamankan Dit Polair Polda Kep Bangka Belituing. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Deddy Marjaya

POSBELITUNG.COM, PANGKALPINANG -- Direktorat Polair (Ditpolair) Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengamankan dua truk bermuatan 16 ton tin slag (limbah peleburan timah), di Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang, Senin (31/10/2016)

Tin slag yang mengandung mineral ikutan dan radioaktif  tersebut, rencananya hendak dibawa ke Jakarta dengan menggunakan kapal ferry penyeberangan.

"Kedua supir saat ini menjalani pemeriksaan di Dit Polair Polda Kep Bangka Belitung," kata Kabid Humas Polda Kep Babel, AKBP Abdul Mun'im, Sabtu (5/11/2016).

Kronologis penangkapannya berawal dari hari Senin 31 Oktober 2016 lalu, anggota Polair mendapatkan infomasi dari masyarakat tentang adanya pengangkutan tin slag, dengan menggunakan mobil truk melewati pelabuhan penyeberangan Pangkalbalam dengan tujuan Jakarta.

Sekira pukul 12.00 WIB anggota Dit Polair melihat dua mobil truk dengan supir MA dan S, yang diduga membawa barang tin slag, tanpa dilengkapi dengan surat ijin pengangkutan yang sah, dikeluarkan pihak berwenang.

Berdasarkan keterangan sopir truk, isi muatan tin slag sekitar 8 ton setiap truk. Sehingga dengan total sekitar 16 ton.

Untuk mengelabuhi petugas, tinslag tersebut ditutupi dengan besi-besi tua.

Selanjutnya supir dan barang bukti diamankan ke kantor Dit Polairda Kep Babel untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Penyidik menetapkan dua orang sopir berinisial M. ASH dan S sebagai tersangka dan ditahan di rutan Dit Polair. Belum ada tersangka lain dari pengembangan kasus ini

Sedangkan barang bukti sebanyak 16 Ton Tin Slag dititipkan di rubasan Kota Pangkalpinang.

Para Tersangka disangka melanggar pasal 158 dan Pasal 161 UU RI No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

"Ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah)," kata AKBP Abdul Mun'im

Penulis: Deddy Marjaya
Editor: Rusmiadi
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved